KUKAR: Kerusakan parah jembatan kayu di Desa Sebuntal, Kecamatan Marangkayu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), kini bukan lagi sekadar persoalan infrastruktur, melainkan telah menjadi ancaman nyata terhadap keselamatan dan keberlangsungan aktivitas warga.
Jembatan yang menjadi satu-satunya akses keluar-masuk desa tersebut dilaporkan mengalami penurunan kondisi signifikan dalam sepekan terakhir. Sejumlah papan kayu penyangga tampak rapuh, berlubang, dan tidak lagi kokoh menopang beban, sehingga membuat warga waswas setiap kali melintas.
Situasi ini berdampak langsung pada mobilitas masyarakat. Kendaraan roda empat dipastikan tidak dapat melintas sama sekali, sementara sepeda motor pun hanya bisa melewati jembatan dengan kehati-hatian tinggi. Kondisi tersebut membuat aktivitas ekonomi, pendidikan, hingga layanan kesehatan warga terancam terganggu.
Salah seorang warga Desa Sebuntal, Jumarni, mengatakan kerusakan jembatan berkembang sangat cepat. Menurutnya, jembatan yang sebelumnya masih dapat dilewati kendaraan kini berubah menjadi jalur berisiko tinggi.
“Rusaknya sekitar satu minggu terakhir, tapi sekarang makin parah. Motor saja sudah bikin takut warga kalau lewat,” ujarnya, Jumat (30/1/2026).
Ia menegaskan, jembatan kayu tersebut memiliki peran vital bagi kehidupan masyarakat desa. Seluruh aktivitas warga, mulai dari mengangkut hasil kebun, akses anak-anak ke sekolah, hingga keperluan berobat, sepenuhnya bergantung pada jembatan tersebut.
Jika kerusakan tidak segera ditangani, warga khawatir Desa Sebuntal akan benar-benar terisolasi. Kondisi ini dinilai sangat berbahaya, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan ibu hamil yang membutuhkan akses cepat ke fasilitas pendidikan dan kesehatan.
Sebagai langkah darurat, warga sempat bergotong royong melakukan perbaikan seadanya agar jembatan masih bisa dilalui sepeda motor. Namun, upaya tersebut diakui hanya bersifat sementara dan tidak menjamin keselamatan pengguna jembatan dalam jangka panjang.
“Kami hanya perbaiki seadanya supaya motor masih bisa lewat. Tapi jelas ini tidak tahan lama,” kata Jumarni.
Ia juga mengungkapkan bahwa pemerintah desa sempat meninjau langsung kondisi jembatan. Namun hingga kini, warga belum menerima informasi lanjutan terkait rencana perbaikan permanen dari pihak berwenang.
“Dari desa sudah ada yang datang lihat, tapi kelanjutannya kami belum tahu,” ungkapnya.
Berdasarkan cerita turun-temurun warga, jembatan kayu tersebut diperkirakan telah berusia sekitar 60 tahun dan selama ini hanya mendapat perawatan ringan. Faktor usia dan material kayu yang telah lapuk diduga menjadi penyebab utama kerusakan yang kini semakin parah.
Akibat kondisi jembatan yang membahayakan, warga yang memiliki kendaraan roda empat terpaksa memarkirkan mobil mereka di luar desa, kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki atau menggunakan sepeda motor secara bergantian.
Warga berharap Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara segera mengambil langkah konkret, baik melalui perbaikan darurat yang lebih aman maupun pembangunan jembatan permanen, guna menjamin keselamatan dan kelancaran aktivitas masyarakat Desa Sebuntal.
“Harapan kami jembatan ini segera diperbaiki, karena ini akses hidup kami,” tutupnya. (*van)

















