KUKAR: Menjelang Hari Raya Idul adha 2026, Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) memastikan stok hewan kurban dalam kondisi aman dan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Sebanyak sekitar 6.000 ekor sapi kurban disiapkan dan tersebar di berbagai wilayah di Kukar.
Kepala Bidang Peternakan Distanak Kukar, Iwan Hermawan mengatakan, ratusan sapi kurban juga telah tersedia di wilayah Tenggarong melalui sejumlah lapak penjualan hewan kurban yang mulai ramai didatangi warga.
“Kalau total seluruh Kukar itu semuanya ada sekitar 6.000 sapi kurban tersedia. Kalau khusus Tenggarong itu sekitar 450 ekor sapi yang ada di penjual-penjual,” ujarnya, Senin (25/5/2026).
Ia menjelaskan, kawasan Samboja dan Samboja Barat menjadi wilayah dengan jumlah stok sapi kurban terbanyak di Kukar. Di dua kawasan tersebut, sekitar 1.000 ekor sapi telah disiapkan oleh pedagang dan peternak.
“Paling banyak itu di Samboja. Jadi Samboja itu sekitar 1.000 ekor disiapkan di sana, Samboja dan Samboja Barat,” katanya.
Menurut Iwan, seluruh hewan kurban yang dipasarkan telah menjalani pemeriksaan kesehatan oleh petugas Distanak Kukar. Hewan yang dinyatakan sehat akan diberi penanda khusus sebagai bukti layak dijadikan hewan kurban.
“Setelah diperiksa bahwa itu sehat, kita kalungkan bahwa itu layak untuk menjadi sapi kurban,” jelasnya.
Meski demikian, pihaknya masih menemukan sejumlah hewan yang tidak memenuhi syarat kurban akibat mengalami cedera selama proses distribusi dari daerah asal menuju Kukar.
“Ada beberapa di tempat penjual itu ada yang tidak layak seperti kakinya patah dari tempat penampungnya saat perjalanan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, sapi kurban yang masuk ke Kukar berasal dari tiga sumber utama, yakni Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi, dan peternak lokal Kukar. Sebagian besar sapi didatangkan dari Kupang, NTT, karena daerah tersebut telah dinyatakan bebas dari Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).
“Kenapa dari Kupang, di sana itu sudah bebas penyakit mulut dan kuku. Jadi tidak perlu karantina lagi di Samarinda,” katanya.
Sementara itu, sapi yang berasal dari Sulawesi masih wajib menjalani proses karantina di Balikpapan selama 12 hingga 15 hari lantaran wilayah asalnya masih ditemukan kasus PMK.
“Kalau yang masih dari Sulawesi itu masih ada penyakit PMK-nya. Itu dikarantina selama 12 atau 15 hari di karantina Balikpapan,” ujarnya.
Iwan menyebutkan, komposisi sapi kurban di Kukar didominasi sapi asal NTT sekitar 60 persen, kemudian 20 persen dari Sulawesi, dan 20 persen lainnya berasal dari peternak lokal.
Distanak Kukar juga memperkirakan mayoritas hewan kurban yang tersedia akan habis terjual menjelang Iduladha. Sebab, sebagian besar stok telah dipesan masyarakat sejak jauh hari.
“Sekitar 90 persen, karena mereka sudah terpesan. Pedagang itu biasanya stok berdasarkan pesanan masyarakat,” tuturnya.
Selain sapi, Distanak Kukar turut mencatat ketersediaan sekitar 1.000 ekor kambing kurban yang berasal dari peternak lokal maupun luar daerah. Jenis kambing yang tersedia di antaranya kambing kacang lokal dan kambing peranakan etawa yang didatangkan dari Jawa serta Banjar.
“Kalau kambing untuk sementara ini di Kukar sekitar ada seribu disediakan. Dari lokal juga ada, dari luar Kutai Kartanegara juga ada,” katanya.
Di salah satu lokasi penjualan kambing, lanjut Iwan, sekitar 60 ekor kambing campuran lokal dan Banjar telah diperiksa kesehatannya dan mayoritas dinyatakan layak kurban.
“Kalau di sini layak semua ini, ada beberapa temuan aja mungkin satu atau dua ekor,” tutupnya. (*van)

















