Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
KUTAI KARTANEGARA

Jalan Desa Rantau Hempang Rusak Parah, Butuh Perhatian Pemerintah

306
×

Jalan Desa Rantau Hempang Rusak Parah, Butuh Perhatian Pemerintah

Share this article
Kondisi Jalan di Desa Rantau Hempang, Kecamatan Muara Kaman.(Dok. Kepala Desa Rantau Hempang, Maman Sulaiman)
Kondisi Jalan di Desa Rantau Hempang, Kecamatan Muara Kaman.(Dok. Kepala Desa Rantau Hempang, Maman Sulaiman)
Example 468x60

KUKAR: Kondisi jalan di Desa Rantau Hempang, Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), memprihatinkan. Jalan yang setiap hari dilalui masyarakat untuk beraktivitas mengalami kerusakan parah, terutama saat hujan turun.

Berdasarkan keterangan, sepanjang kurang lebih 16 kilometer jalan desa dalam kondisi rusak. Sebagian besar jalan masih berupa tanah, sehingga sulit dilalui kendaraan, terlebih ketika cuaca tidak bersahabat.

Kepala Desa Rantau Hempang, Maman Sulaiman, menjelaskan bahwa ruas jalan yang menghubungkan Rantau Hempang menuju Desa Selerong memiliki panjang sekitar 14 kilometer, dengan titik kerusakan terparah berada di beberapa titik, khususnya dari wilayah Benua Pohon hingga mendekati Selerong sepanjang sekitar 6 kilometer.

“Kalau kondisi hujan, jalan tetap bisa dilewati, tapi harus dipaksakan dan sangat parah,” ujarnya saat di hubungi, Jumat (3/4/2026).

Ia juga mengungkapkan bahwa jalan tersebut awalnya dibuka atas inisiatif masyarakat pada awal tahun 2000-an, karena sebelumnya belum ada akses penghubung di wilayah tersebut. Setelah diusulkan ke pemerintah daerah, pembangunan jalan mulai direalisasikan secara bertahap.

Pada tahun 2005–2006, jalan sepanjang sekitar 16,5 kilometer berhasil dibuka dengan anggaran awal sekitar Rp8,7 miliar. Kemudian pada 2008–2009, kembali mendapat peningkatan berupa agregat dengan anggaran sekitar Rp23 miliar. Selanjutnya, pada 2013–2014 dilakukan semenisasi, namun belum menjangkau seluruh ruas hingga ke Selerong.

Menurut Maman, jalan tersebut sangat vital karena menjadi jalur alternatif yang lebih dekat bagi masyarakat menuju sejumlah wilayah, termasuk ke arah Tenggarong melalui Selerong dan Mangkurawang.

“Kalau lewat jalur ini, jarak tempuh hanya sekitar 50 kilometer. Tapi kalau harus memutar lewat Kota Bangun hingga ke Tenggarong, bisa mencapai sekitar 97 kilometer,” jelasnya.

Selain digunakan masyarakat, jalan tersebut juga dilalui kendaraan perusahaan dan angkutan kelapa sawit, yang turut memperparah kondisi jalan, terutama saat musim hujan.

Pihak desa sebenarnya telah mengimbau agar kendaraan berat tidak melintas saat kondisi jalan basah. Namun, karena kepentingan operasional, imbauan tersebut kerap diabaikan.

“Kami sempat ingin menutup jalan sementara, tapi tidak bisa karena ini akses umum,” tambahnya.

Pemerintah desa bersama masyarakat berharap adanya perhatian serius dari pemerintah daerah untuk memperbaiki infrastruktur tersebut secara menyeluruh, tanpa adanya sekat kepentingan.

“Kami berharap ada niat tulus dari pemerintah untuk membangun, tanpa pilih-pilih. Ini demi kepentingan masyarakat luas, khususnya di wilayah hulu Kukar,” pungkasnya. (*van)

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *