KUKAR: Jumlah titik panas atau hotspot di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menunjukkan tren penurunan dibandingkan kondisi pada awal Oktober 2026. Meski demikian, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kukar tetap memperkuat pemantauan dan meminta jajaran kewilayahan melakukan pengecekan langsung terhadap titik-titik yang terdeteksi satelit.
Sekretaris BPBD Kukar menjelaskan, pada periode sebelumnya jumlah titik panas yang terpantau di sejumlah wilayah Kalimantan Timur dapat mencapai 300 hingga 400 titik dalam sehari. Saat ini, jumlah tersebut dilaporkan menurun, salah satunya seiring turunnya hujan di sejumlah kawasan.
“Jumlah titik panas saat ini mengalami penurunan. Sebelumnya, hampir setiap hari jumlahnya bisa mencapai 300–400 titik,” ujarnya, Sabtu (24/10/2026).
Meski menunjukkan perkembangan positif, BPBD Kukar menilai pemantauan tetap perlu dilakukan secara intensif. Data satelit dari sejumlah sumber, seperti NASA dan NOAA, terkadang menunjukkan perbedaan jumlah titik panas sehingga diperlukan pencocokan data dan pemeriksaan langsung di lapangan.
Menurutnya, titik panas yang terdeteksi satelit perlu ditindaklanjuti melalui pemeriksaan lapangan atau ground check untuk memastikan kondisi sebenarnya, termasuk mengetahui apakah titik tersebut mengindikasikan kebakaran lahan.
BPBD Kukar juga meminta dukungan pihak kecamatan, aparat kewilayahan, serta pemerintah desa untuk memantau kondisi di daerah masing-masing. Langkah ini dinilai penting agar potensi kebakaran dapat diketahui lebih cepat dan segera ditangani.
Sejumlah kawasan, termasuk Kecamatan Kenohan dan Muara Jawa, turut menjadi perhatian dalam pemantauan. Namun, data terperinci mengenai jumlah dan persebaran titik panas di setiap kecamatan masih perlu dikonfirmasi.
Penurunan jumlah titik panas tidak serta-merta menghilangkan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi cuaca, tingkat kekeringan vegetasi, serta aktivitas manusia tetap menjadi faktor yang perlu diwaspadai.
BPBD Kukar mengingatkan masyarakat agar tidak membakar lahan maupun sampah sembarangan. Warga juga diharapkan segera melaporkan apabila menemukan titik api atau kepulan asap agar petugas dapat melakukan pemeriksaan dan penanganan sedini mungkin.
“Kami berharap potensi karhutla dapat ditekan sehingga dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat bisa diminimalkan,” ungkapnya.
Sementara itu, Camat Samboja, Damsik, mengatakan pihaknya belum dapat memastikan apakah intensitas karhutla di wilayahnya mengalami penurunan. Pasalnya, hingga saat ini kebakaran masih terjadi di sejumlah kawasan Samboja.
“Kalau untuk penurunannya, saya belum bisa menyampaikan apakah menurun atau tidak. Namun, karhutla masih terjadi di Samboja. Hampir setiap hari ada titik api,” kata Damsik.
Menurutnya, penanganan karhutla terus dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan pemerintah kecamatan, kepolisian, TNI, pemadam kebakaran, Palang Merah Indonesia (PMI), relawan, hingga unsur masyarakat.
Damsik menyebut kondisi tersebut semakin mengkhawatirkan karena kebakaran tidak hanya terjadi di lahan kosong, tetapi juga mulai mendekati dan berdampak terhadap aktivitas masyarakat.
Bahkan, sejumlah usaha warga, termasuk bangunan sarang burung walet, dilaporkan telah terdampak kebakaran. Kondisi ini mendorong pemerintah meningkatkan kewaspadaan, terutama di kawasan yang berdekatan dengan objek vital.
“Kami mengantisipasi agar kebakaran tidak sampai terjadi di kawasan objek vital negara, termasuk di sekitar perusahaan minyak PHM dan PSSA,” ujarnya. (and)

















