KUKAR: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menghadapi tantangan dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di wilayah hulu yang sulit dijangkau melalui operasi pemadaman udara.
Sekretaris BPBD Kukar, Aspianur Sandi, menjelaskan bahwa penanganan karhutla di wilayah pesisir, tengah, hingga hulu Kukar dilakukan dengan menyesuaikan kondisi geografis dan ketersediaan sarana pemadaman.
Untuk wilayah yang relatif mudah dijangkau, penanganan dilakukan melalui tim darat yang melibatkan BPBD, pemadam kebakaran, relawan, serta Masyarakat Peduli Api (MPA) yang tersebar di 20 kecamatan.
Menurutnya, dukungan operasi pemadaman melalui udara atau water bombing menggunakan helikopter juga sangat membantu. Namun, ketersediaan armada dan keterbatasan jangkauan terbang menjadi kendala ketika kebakaran terjadi jauh dari pangkalan helikopter.
Aspianur menyebutkan, helikopter yang sebelumnya bersiaga di wilayah Kalimantan Timur telah bergeser ke Kalimantan Selatan sejak akhir Agustus hingga September. Sementara itu, helikopter jenis Caracal yang berada di Balikpapan difokuskan untuk mendukung penanganan kebakaran di wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN) dan kawasan sekitarnya.
“Untuk wilayah hulu memang ada kendala. Jangkauan helikopter terbatas karena harus memperhitungkan jarak terbang dan kebutuhan kembali ke pangkalan,” jelasnya Kamis (22/10/2026).
Ia menuturkan, keterbatasan tersebut membuat sejumlah titik kebakaran di wilayah pedalaman sulit dijangkau melalui pemadaman udara. Karena itu, keberadaan tim darat dan dukungan relawan tetap menjadi bagian penting dalam upaya penanganan karhutla.
Aspianur mencontohkan penanganan di wilayah Muara Kaman yang turut terbantu oleh dukungan perusahaan perkebunan kelapa sawit. Perusahaan tersebut menyewa helikopter untuk membantu pemadaman di area operasionalnya sekaligus mendukung penanganan kebakaran di wilayah sekitarnya.
Menurutnya, dukungan berbagai pihak diperlukan untuk mempercepat penanganan kebakaran, terutama di daerah yang memiliki keterbatasan akses.
Sementara itu, Kepala Desa Bunga Jadi, Inna Ismiyati, mengatakan kebakaran hutan dan lahan saat ini terjadi di wilayah desanya, termasuk di lokasi yang berdekatan dengan permukiman warga.
Ia menyebutkan, beberapa waktu sebelumnya kebakaran juga terjadi di lahan yang lokasinya jauh dari permukiman. Kebakaran tersebut berhasil dipadamkan berkat kerja sama relawan pemadam kebakaran dan pemerintah desa.
“Kami berharap masalah ini bisa segera ditangani dengan baik. Kami juga terus mengimbau masyarakat agar tidak membakar sampah atau membuang puntung rokok sembarangan,” ujarnya.
Ia mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran. Upaya pencegahan dinilai penting agar api tidak meluas dan mengancam permukiman warga. (and)

















