KUKAR: Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mencatat penurunan signifikan kasus demam berdarah dengue (DBD) sepanjang semester pertama 2026.
Hingga Juni 2026, jumlah kasus DBD tercatat sebanyak 304 kasus, jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang mencapai 753 kasus.
Kepala Dinas Kesehatan Kukar, Ismi Mufiddah, mengatakan penurunan tersebut menjadi indikator positif terhadap upaya pencegahan yang selama ini dilakukan pemerintah daerah, termasuk pelaksanaan program vaksinasi DBD bagi anak-anak usia sekolah.
“Kalau dibandingkan Januari hingga Juni 2025 yang mencapai 753 kasus, tahun ini sampai Juni hanya 304 kasus. Artinya, terjadi penurunan yang cukup signifikan pada periode yang sama,” ujarnya.
Menurut Ismi, meski belum dilakukan penelitian khusus untuk mengukur efektivitas vaksinasi terhadap penurunan kasus DBD, tren yang terjadi menunjukkan hasil yang menggembirakan. Hingga Juli 2026, Kukar juga belum mengalami lonjakan kasus yang berpotensi menjadi kejadian luar biasa (KLB).
Meski demikian, masyarakat diminta tetap meningkatkan kewaspadaan dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat serta menjaga kebugaran tubuh agar tidak mudah terserang penyakit.
Ismi menegaskan, pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M Plus masih menjadi langkah paling efektif dalam mencegah penyebaran DBD, yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, serta mengubur atau mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
Ia juga meluruskan anggapan masyarakat mengenai fogging. Menurutnya, pengasapan bukan solusi utama dalam penanganan DBD karena hanya membunuh nyamuk dewasa, sementara jentik tetap harus diberantas melalui PSN.
“Fogging memiliki prosedur yang jelas. Dilakukan apabila terjadi peningkatan kasus yang signifikan, minimal dua kali lipat di lokasi yang sama atau terdapat kasus kematian. Yang paling efektif tetap pemberantasan sarang nyamuk melalui 3M,” jelasnya.
Berdasarkan data Januari hingga Juni 2026, Kecamatan Muara Badak menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni 27 kasus. Disusul Loa Janan dan Muara Wis yang masing-masing mencatat 25 kasus, serta Samboja Barat sebanyak 24 kasus.
Sementara itu, Kecamatan Tenggarong tidak masuk dalam 10 besar wilayah dengan kasus DBD terbanyak. Selain itu, sepanjang tahun 2025 Kukar juga tidak mencatat adanya kasus kematian akibat DBD.
“Kami berharap kolaborasi pemerintah dan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan dapat terus menekan angka kasus DBD sehingga tidak berkembang menjadi kejadian luar biasa,” tutupnya. (and)

















