KUKAR: Lapak pedagang kuliner Warung Salsabila yang berada di lantai 2 Pasar Tangga Arung, mulai melakukan persiapan menjelang peresmian pasar pada Senin (5/1/2025). Warung ini menyiapkan beragam menu kuliner, di antaranya tongseng, rawon, nasi goreng, nasi goreng mawut, nasi campur, dan lain-lain.
Pemilik Warung Salsabila, Hartanti, mengungkapkan bahwa hingga saat ini kesiapan lapaknya baru mencapai sekitar 50 persen. Ia mengaku harus berpacu dengan waktu untuk mempersiapkan usaha, meski dengan keterbatasan modal.
“Persiapan kami baru sekitar 50 persen. Mau tidak mau harus buru-buru, bahkan jujur saja ada yang kami siapkan dengan cara berutang. Saya bersyukur sudah dikasih tempat, cuma karena jadwal peresmian sempat berubah-ubah, kami jadi belum benar-benar siap,” ujarnya, Sabtu (3/1/2025).
Menurut Hartanti, informasi peresmian pasar yang sempat disebutkan pada tanggal 5 hingga Januari membuat sebagian pedagang kebingungan dan harus melakukan persiapan secara mendadak.
“Akhirnya kami kejar, beli perlengkapan dengan cara kredit atau seadanya,” katanya.
Ia menambahkan, seluruh menu yang tercantum di daftar telah disiapkan dan siap disajikan kepada pengunjung. Warung Salsabila sendiri mulai membuka lapak pada sore hari.
“Saya buka jam setengah tiga sore tadi. Ini sore ke tiganya saya buka,” jelasnya.
Terkait rencana peresmian pasar oleh pimpinan daerah, Hartanti berharap kebijakan ke depan tetap berpihak kepada pedagang kecil. Ia menilai meskipun Pasar Tangga Arung kini tampil lebih modern seperti pusat perbelanjaan, namun esensinya tetap sebagai pasar rakyat.
“Harapan saya, ini kan tetap pasar. Memang dibuat modern seperti mal, tapi kami sebagai pedagang persiapannya ya seperti di pasar,” ungkapnya.
Hartanti juga menyampaikan keberatannya jika ke depan pedagang diwajibkan mengikuti standar layaknya pusat perbelanjaan modern, seperti keseragaman banner, meja, atau fasilitas lain yang berpotensi menambah beban biaya.
“Kalau harus disamakan seperti di mal, jujur kami keberatan. Kemampuan kami sekarang ini sangat berat, kondisi ekonomi juga sedang sulit,” katanya.
Ia menilai, kondisi tersebut membuat sebagian pedagang belum berani membuka lapak karena khawatir harus kembali mengeluarkan biaya tambahan.
“Ada pedagang yang belum berani buka karena takut sudah terlanjur mengisi, tapi nanti ternyata harus ganti meja atau perlengkapan lagi. Itu yang memberatkan kami,” ungkapnya. (*van)

















