KUKAR : Kelompok musik dan seni budaya Takeru Band terus berupaya menghidupkan geliat seni tradisional Kutai melalui pertunjukan rutin yang digelar setiap Rabu malam Kamis, di kawasan Taman Titik No, Tenggarong.
Takeru berada di bawah naungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), dan telah dibentuk sekitar dua tahun lalu. Kelompok ini merupakan bagian dari wadah seni bernama Takeru (Talenta Kesah Rupa) yang bertujuan menghimpun dan memfasilitasi para seniman, khususnya seniman seni rupa dan seni tradisional Kutai.
Pembina Takeru Band, Abdul Ghaffar, menjelaskan bahwa pembentukan Takeru berangkat dari keprihatinan terhadap semakin berkurangnya aktivitas seni rupa dan seni tradisional di Kukar.
“Awalnya kami melihat seni rupa dan seni tradisional di Kukar mulai jarang tampil. Karena itu kami berusaha mengumpulkan para seniman dan membentuk Takeru sebagai wadahnya,” ujarnya, Rabu (23/12/2025).
Sebagai salah satu penunjang kegiatan Takeru, Takeru Band menampilkan berbagai pertunjukan seni, mulai dari lagu-lagu daerah Kutai, lagu pop, hingga kesenian tradisional seperti Bedandeng, yang memiliki kemiripan dengan Tarsul namun dengan karakter dialog dan alur cerita yang berbeda.
“Bedandeng ini lebih banyak berdialog dan bercerita, nadanya juga berbeda dengan Tarsul,” jelasnya.
Pertunjukan Takeru Band tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga mendukung aktivitas UMKM yang berjualan di kawasan Titik Nol. Selain malam Kamis, Takeru Band juga siap tampil pada malam Minggu jika jadwal memungkinkan, guna menarik lebih banyak pengunjung.
Saat ini, Takeru Band beranggotakan sekitar 12 orang, dengan mayoritas anggota berusia di atas 45 tahun. Meski demikian, Takeru justru ingin menjadi motivasi bagi generasi muda agar terus berkarya dan mengekspresikan seni budaya daerah.
“Harapan kami, anak-anak muda jangan berhenti berkreasi dan berani menampilkan seni tradisional Kukar,” katanya.
Dalam menjalankan kegiatannya, Takeru Band mengakui sejumlah kendala, seperti cuaca hujan dan kondisi personel yang berhalangan. Namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat mereka untuk tetap tampil dan berkarya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Disdikbud Kukar yang telah menyediakan ruang dan memfasilitasi kegiatan seni tersebut. Meski belum mendapat dukungan dana secara khusus, kelompok ini tetap berjalan secara mandiri.
“Kami bersyukur mendapat dukungan penuh berupa fasilitasi tempat. Soal pendanaan, kami mandiri. Kalau ada bantuan, alhamdulillah, kalau tidak ada kami tetap jalan,” pungkasnya.
Melalui kegiatan ini, Ia berharap pemerintah daerah terus memberikan dukungan agar seni dan budaya Kukar tetap lestari dan dikenal oleh generasi muda. (*van)

















