KUKAR: Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus mengejar penurunan angka stunting melalui program kesehatan yang dilakukan secara rutin di lapangan.
Salah satu upaya yang diperkuat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar yakni pemberian makanan tambahan (PMT) berbasis pangan lokal kepada kelompok sasaran.
Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kukar, Ismi Mufiddah, mengatakan penurunan stunting menjadi salah satu program prioritas yang harus terus dijaga.
Menurutnya, keberhasilan menekan angka stunting tidak berarti program dapat dihentikan karena kondisi tersebut tetap harus dipantau agar kasus tidak kembali meningkat.
“Ini memang masih perlu kita kejar dan perlu di maintenance. Angka kematian balita, penurunan stunting, dan pencapaian indikator SPM masih menjadi program prioritas,” ujarnya, Senin (21/9/2026).
Ia menjelaskan, PMT lokal diberikan kepada sejumlah kelompok yang membutuhkan intervensi, termasuk ibu hamil yang mengalami kekurangan energi kronis (KEK) serta bayi dan balita yang mengalami stunting.
Untuk ibu hamil, salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah ukuran lingkar lengan atas (LILA). Ibu hamil dengan LILA di bawah 23 sentimeter menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapatkan perhatian karena dapat menunjukkan adanya risiko kekurangan energi.
Kondisi tersebut dapat dipengaruhi oleh kurangnya asupan makanan, infeksi maupun faktor lainnya. Karena itu, pemberian makanan tambahan menjadi salah satu bentuk intervensi untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi.
Sementara bagi balita yang mengalami stunting, pemberian PMT disesuaikan dengan hasil pemeriksaan dan kebutuhan masing-masing. Dalam kondisi tertentu, PMT lokal dapat diberikan secara rutin hingga beberapa bulan.
Menurut Ismi, makanan tambahan tidak diberikan secara sembarangan. Penyusunannya dilakukan tenaga gizi dengan memperhatikan keseimbangan kebutuhan karbohidrat, protein dan zat gizi lainnya.
Bahan yang digunakan juga diupayakan berasal dari pangan lokal yang mudah ditemukan masyarakat, termasuk kacang-kacangan dan sumber protein lainnya.
Pendanaan program tersebut dapat berasal dari berbagai sumber, mulai dari puskesmas, bantuan operasional kesehatan dari APBN hingga APBD Kukar.
Ismi menyebut, berdasarkan data September, angka stunting Kukar berada di sekitar 14,2 persen. Pemerintah daerah masih mengejar target berikutnya di angka sekitar 12,2 persen.
“Memang kita masih perlu mengejar angka tersebut, tetapi dalam tiga tahun terakhir terjadi penurunan yang cukup signifikan,” jelasnya.
Ia menambahkan, data stunting terus bergerak karena proses pengukuran dan pelaporan dilakukan setiap hari melalui sistem dashboard. Dengan demikian, perkembangan kasus dapat dipantau dan diperbarui secara berkala.
Dinkes Kukar memastikan program pemberian makanan tambahan dan intervensi kesehatan lainnya akan terus berjalan untuk mempertahankan capaian yang sudah diperoleh sekaligus mengejar target penurunan stunting berikutnya. (Adv/Van)

















