KUKAR: Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mulai mengembangkan peluang komoditas pangan alternatif melalui tanaman sorgum dan jelai. Pengembangan tersebut dilakukan bertahap untuk melihat potensi dan kesesuaian kedua tanaman sebelum diarahkan ke skala yang lebih luas.
Kepala Distanak Kukar, Muhammad Rifani, mengatakan pengenalan komoditas baru membutuhkan proses pengujian sebelum masuk pada tahap pengembangan yang lebih besar.
Menurutnya, setiap tanaman memiliki karakteristik berbeda sehingga perlu dilihat terlebih dahulu kecocokannya dengan kondisi lahan dan pola budidaya petani di Kukar.
“Jelai ini kan komoditas yang baru kita coba. Jadi kita tidak mau langsung bicara pengembangan besar-besaran. Kita lihat dulu melalui demplot, bagaimana tanaman ini berkembang dan seperti apa teknis budidayanya di lapangan,” ujarnya Senin (21/9/2026).
Untuk jelai, Distanak menyiapkan lahan percontohan atau demplot sebagai tahap awal. Dari kegiatan tersebut, pemerintah akan memperoleh gambaran mengenai pertumbuhan tanaman sekaligus teknik yang diperlukan dalam proses budidayanya.
Sementara itu, sorgum sudah berada satu tahap lebih maju. Tanaman tersebut telah lebih dahulu dibudidayakan dan kini memasuki masa panen.
Rifani menyebut pertumbuhan sorgum sejauh ini menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Hasil panen nantinya akan menjadi bahan pertimbangan untuk melihat peluang pengembangan komoditas tersebut di Kukar.
“Perkembangannya sejauh ini lumayan bagus, jadi sekarang kita tinggal melihat bagaimana hasil akhirnya dan peluang pengembangannya ke depan,” tuturnya.
Pengembangan sorgum juga memiliki peluang untuk diarahkan pada pemanfaatan lahan tertentu, termasuk lahan bekas pertambangan yang memenuhi persyaratan. Potensi tersebut menjadi salah satu opsi yang dapat dikaji pemerintah daerah dalam memperluas sumber produksi pangan alternatif.
Namun, pengembangan tanaman baru tetap harus dilakukan dengan perencanaan matang. Distanak tidak hanya melihat kemampuan tanaman menghasilkan produksi, tetapi juga mempertimbangkan keberlanjutan setelah panen.
Rifani mengatakan aspek hilir perlu dipersiapkan sejak awal agar hasil produksi memiliki tujuan yang jelas.
“Komoditas baru itu bukan hanya bicara bagaimana kita menanam, setelah panen juga harus jelas. Pasca panennya bagaimana, kemudian pasarnya seperti apa, itu semuanya harus kita pikirkan dari awal supaya pengembangannya bisa berkelanjutan,” jelasnya.
Menurutnya, pemerintah tidak ingin petani langsung diarahkan mengubah komoditas tanpa perhitungan. Ketika produksi sudah meningkat, tetapi tidak diikuti kesiapan pasar, kondisi tersebut justru dapat berdampak terhadap petani.
Karena itu, tahap percontohan dan evaluasi menjadi bagian penting sebelum pemerintah menentukan kebijakan pengembangan lebih luas.
Langkah tersebut sekaligus menjadi upaya Kukar dalam memperluas diversifikasi pangan dengan tetap memperhatikan kondisi petani, kemampuan produksi, serta peluang pemanfaatan hasil panen.
“Kalau pasarnya sudah ada, baru kita bisa bicara lebih masif. Jangan sampai kita mengajak petani mengembangkan komoditas baru, tetapi ketika panen ternyata tidak ada yang menyerap. Itu yang justru bisa merugikan petani,” pungkasnya. (Adv/Van)

















