KUKAR: Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura melaksanakan proses Bepelas pertama di Museum Mulawarman Tenggarong , Sabtu (21/9/2005) malam.
Selain Kerabat Kesultanan, kegiatan ini juga turut dihadiri Bupati Kukar Aulia Rahman Basri dan Wakil Bupati Kukar Rendi Solihin, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar Tauhid Afrilian Noor dan tamu undangan lainnya.
Acara sakral Bepelas Pertama kembali digelar dalam rangkaian Erau Tepung Tawar atau Erau Pelas.
Prosesi adat ini diyakini sebagai bagian penting dari tatanan tradisi yang bertujuan untuk mensucikan seorang pemimpin, baik raja maupun pejabat, agar terhindar dari aura negatif serta dianugerahi karisma, kebijaksanaan dan kearifan lokal demi kesejahteraan rakyat.

Belian Sartin, seorang tokoh adat menyampaikan, pelas memiliki makna mendalam bagi masyarakat Kutai.
“Pelas itu sendiri tujuannya untuk mensucikan seorang pejabat atau seorang raja supaya terhindar dari hal-hal negatif. Tujuannya agar beliau diberikan karisma dan kearifan dalam memimpin rakyatnya,” ucapnya.
Sebelum Bepelas, ritual Belian digelar pada malam hari. Ritual ini melambangkan perjalanan spiritual sesuai perintah Sultan, baik di dunia nyata maupun dimensi lain, untuk mendatangi tempat-tempat yang dipercaya mampu memberi kekuatan kepada seorang pemimpin.
Para pelaku adat juga menyampaikan pesan kepada kekuatan gaib agar turut hadir dan memberikan energi positif pada raja atau pemimpin yang dipelas.
Penembakan meriam dilakukan sebagai penanda dimulainya prosesi. Satu kali ledakan meriam menjadi simbol kegiatan Bepelas pertama resmi dilaksanakan.
“Makna peluncuran meriam itu sebagai penanda bahwa kegiatan sedang berlangsung. Satu kali ledakan menandakan kita sudah Bepelas Satu,” ujarnya.
Dalam area prosesi, para penari dewa ikut hadir untuk menampilkan berbagai tarian sakral. Salah satu yang paling penting adalah Tari Dewa Memanah.Tarian ini menggambarkan pembersihan aura negatif yang selama ini bisa memengaruhi pikiran dan hati manusia.
Menurut kepercayaan adat, terdapat sosok atau makhluk yang kerap mendorong seseorang untuk berbuat tidak baik.
Dalam tarian tersebut, dewa yang menari memanah makhluk itu hingga tumbang, lalu muncul cahaya terang yang memberi sinar bagi seorang pemimpin dalam menjalankan tugasnya.
Setelah tarian sakral selesai, masyarakat diajak untuk merayakan kemenangan melawan energi negatif melalui pesta rakyat.
Berbagai tarian khas Kutai, seperti Tari Beganjur, Begarjar Bini, dan Kanjar Selamudi Laki diperagakan sebagai bentuk syukur.
“Dengan hilangnya makhluk yang memengaruhi pikiran dan hati manusia, maka muncul cahaya terang yang bersinar. Cahaya inilah yang diharapkan mampu menyinari seorang pemimpin dalam menjalankan tugasnya dengan bijaksana,” tuturnya. (*van)

















