KUKAR: Upaya meningkatkan ketersediaan air bagi sektor pertanian terus dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar). Melalui Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bidang Sumber Daya Air (SDA), sejumlah infrastruktur pengairan mendapat penanganan tahun ini, mulai dari pembangunan pintu air hingga normalisasi sungai di enam lokasi.
Kepala Bidang (Kabid) SDA Dinas PU Kukar, Awang Agus, menjelaskan pekerjaan tersebut merupakan bagian dari tindak lanjut usulan yang telah disampaikan pada 2025. Meski begitu, pelaksanaan di lapangan belum bisa mengakomodasi seluruh usulan lantaran keterbatasan anggaran.
Beberapa wilayah yang menjadi sasaran pekerjaan meliputi Jonggon, Bukit Raya, Bangun Rejo, dan Sungai Alam di kawasan Manunggal Jaya. Penanganan juga mencakup sejumlah kawasan pertanian lainnya yang membutuhkan dukungan infrastruktur pengairan.
Ia menyebutkan, pembangunan pintu air di Jonggon dan Bukit Raya menjadi salah satu pekerjaan penting untuk membantu mengatur distribusi air. Sementara normalisasi sungai dilakukan agar aliran air lebih mudah dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan lahan pertanian.
“Untuk irigasi, memang dari usulan tahun lalu hanya beberapa yang bisa direalisasikan. Ada pembangunan pintu air di Jonggon dan Bukit Raya, kemudian beberapa normalisasi sungai yang memang diprioritaskan untuk kawasan pertanian,” ujarnya, Kamis (5/11/2026).
Ia menerangkan, kondisi debit sungai yang mengalami penyusutan membuat kebutuhan penanganan irigasi semakin mendesak. Petani membutuhkan pasokan air yang cukup agar kegiatan pertanian tetap berjalan. Namun, perbedaan ketinggian permukaan air sungai saat ini menjadi kendala dalam mengalirkan air menuju saluran pertanian.
Menurutnya, normalisasi menjadi salah satu langkah untuk mengoptimalkan aliran air yang tersedia. Selain itu, terdapat penambahan dimensi sekitar satu meter pada penampungan air agar kapasitas penyimpanan semakin besar.
“Persoalan utamanya adalah bagaimana air dari sungai bisa tetap masuk ke kawasan pertanian. Sekarang kondisinya sedang surut, sementara kebutuhan petani terhadap air cukup tinggi. Karena itu, kami berupaya memaksimalkan aliran yang ada sekaligus meningkatkan kapasitas penampungan,” jelasnya.
Dari sisi pembiayaan, Awang memperkirakan total anggaran yang disiapkan untuk pekerjaan bidang SDA tersebut mencapai sekitar Rp8 miliar. Anggaran itu digunakan untuk mendukung berbagai kegiatan penanganan infrastruktur pengairan di sejumlah titik prioritas.
Ia berharap, pekerjaan yang dilaksanakan dapat memberikan manfaat langsung bagi petani, terutama dalam menjaga ketersediaan air ketika kondisi sungai mengalami penurunan debit.
“Harapannya, melalui pembangunan pintu air, normalisasi sungai, dan penambahan kapasitas tampungan, kebutuhan air untuk pertanian bisa lebih terbantu. Kami juga akan menyesuaikan penanganan dengan usulan serta kemampuan anggaran yang tersedia,” pungkasnya. (Adv/Van)

















