KUKAR : Keluhan masyarakat terkait penggunaan sound horeg saat membangunkan sahur semakin ramai disuarakan. Warga menilai suara dengan volume besar dan getaran tinggi tersebut sangat mengganggu.
Menanggapi hal itu, Kabag Ops Polres Kutai Kartanegara (Kukar), Kompol Roganda, mengimbau masyarakat untuk tidak menggunakan sound horeg maupun petasan selama bulan suci Ramadan.
Menurutnya, penggunaan pengeras suara berdaya besar dapat mengganggu kenyamanan dan kekhusyukan warga, khususnya yang sedang melaksanakan ibadah salat maupun yang dalam kondisi sakit.
“Karena itu sangat besar suaranya dan getarannya. Kita juga harus menjaga kekhusyukan saat ibadah salat. Bisa jadi sudah ada yang sedang salat, ada orang tua yang dalam keadaan sakit, atau memiliki riwayat jantung. Itu juga harus kita antisipasi,” ujarnya.
Sebagai alternatif, Roganda menyarankan masyarakat menggunakan cara yang lebih humanis dan tidak berlebihan. Selain melalui pengeras suara masjid atau musala, warga bisa menggunakan sistem sederhana seperti saling menghubungi melalui telepon.
“Misalnya pakai sistem buddy. Bisa saling telepon, janjian untuk bangun sahur. Yang penting handphonenya jangan di silent. Jadi saling terkoneksi tanpa harus pakai sound horeg,” jelasnya.
Ia juga menegaskan agar masyarakat tidak menyalakan petasan atau bunga api yang berpotensi mengganggu ketertiban umum dan membahayakan keselamatan. Imbauan tersebut sejalan dengan surat edaran Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara selama Ramadan yang mengatur ketertiban dan kenyamanan masyarakat.
Terkait pengamanan, Polres Kukar akan menggelar Apel Siaga Kamtibmas Ramadan sebagai langkah antisipasi terhadap berbagai potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat.
“Besok pagi kami melaksanakan apel siaga Kamtibmas Ramadan. Ada beberapa hal yang perlu diwaspadai seperti balapan liar, perang sarung, dan kegiatan masyarakat lainnya,” ungkapnya.
Roganda mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga ketertiban dan saling menghormati selama Ramadan. Ia menegaskan, suasana yang aman dan kondusif tidak hanya menjadi tanggung jawab kepolisian, tetapi juga membutuhkan kesadaran bersama.
“Mari kita isi Ramadan ini dengan kegiatan yang positif. Saling menghargai, menjaga kenyamanan lingkungan, sehingga ibadah bisa berjalan dengan khusyuk dan situasi kamtibmas di Kutai Kartanegara tetap aman dan terkendali,” pungkasnya. (*van)

















