KUKAR: Kebakaran lahan yang terjadi di Dusun Nilam, RT 05 dan RT 06, Desa Saliki, Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), hingga Kamis (10/9/2026) masih dalam penanganan.
Kepala Desa Saliki, Saliansyah, menjelaskan bahwa penanganan kebakaran dilakukan melalui pemadaman dari udara menggunakan helikopter. Menurutnya, helikopter tersebut telah melakukan penyiraman sebanyak sekitar enam kali pada hari ini.
“Kalau laporan anggota damkar Muara Badak ke saya, tadi sudah sekitar enam kali dilakukan penyiraman,” ujar Saliansyah Kamis (10/9/2026).
Ia menjelaskan, kebakaran tidak terjadi secara merata dalam satu hamparan, melainkan muncul di sejumlah titik yang lokasinya berpindah-pindah. Setelah satu titik berhasil dipadamkan, api kembali ditemukan di lokasi lainnya.
“Luasnya kami tidak bisa pastikan. Hutannya yang terdampak sekitar 5 ribu hektare, tetapi tidak semuanya terbakar. Hanya beberapa titik saja,” jelasnya.
Saliansyah menyebutkan, hingga saat ini api belum sepenuhnya padam. Sejumlah titik di kawasan hutan masih ditemukan menyala dan sulit dijangkau oleh tim pemadam karena keterbatasan akses maupun peralatan.
“Masih, belum padam. Di sana masih ada yang menyala,” katanya.
Dalam penanganan di lapangan, personel dari Damkar Muara Badak turut terlibat. Sebelumnya, terdapat pula tim dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang membantu dengan peralatan pompa.
Namun, kendala ketersediaan air menjadi salah satu persoalan dalam proses pemadaman. Peralatan pompa yang tersedia cukup memadai, tetapi dukungan mobil tangki untuk menyuplai air masih terbatas.
“Pompa dari kementerian lengkap, tetapi mobil tangkinya tidak ada. Jadi keterbatasan air. Kemarin warga yang menyiapkan air, sekitar 2.000 liter atau dua tandon kami kirim, tetapi sebentar sudah habis lagi,” ungkapnya.
Sementara itu, pemerintah desa bersama warga terus melakukan penjagaan, terutama di sekitar kebun masyarakat dan permukiman. Hal tersebut dilakukan untuk mengantisipasi apabila api bergerak mendekati area yang menjadi tempat tinggal maupun lahan warga.
“Kami menjaga kebun masyarakat dan rumah-rumah. Kalau api mendekati rumah atau kebun masyarakat, kami jaga di situ. Kalau di tengah hutan, kami memang tidak bisa berbuat banyak,” tuturnya.
Penjagaan dilakukan hingga malam bahkan dini hari sebagai langkah antisipasi agar kobaran api tidak meluas ke kawasan permukiman.
Saliansyah berharap penanganan kebakaran dapat terus dilakukan, terutama dengan dukungan pemadaman dari udara, mengingat kondisi kemarau membuat potensi api kembali meluas masih cukup tinggi. (and)

















