Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
KUTAI KARTANEGARA

Heboh Video Bupati Kukar Tabur Bibit Padi di Danau Semayang, Ternyata Begini Faktanya

209
×

Heboh Video Bupati Kukar Tabur Bibit Padi di Danau Semayang, Ternyata Begini Faktanya

Share this article
Momen Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri Tabur Benih Padi di Danau Semayang. (Istimewa)
Momen Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri Tabur Benih Padi di Danau Semayang. (Istimewa)
Example 468x60

KUKAR: Aksi Bupati Kutai Kartanegara (Kukar), Aulia Rahman Basri, menaburkan bibit padi di Danau Semayang belakangan ini menjadi sorotan dan ramai diperbincangkan di media sosial.

Dalam video yang beredar, aksi tersebut bahkan memunculkan beragam komentar dari masyarakat. Sebagian pihak mempertanyakan cara penanaman padi yang dilakukan dengan menaburkan benih di kawasan yang masih tergenang air.

Namun, Pemerintah Kabupaten Kukar menegaskan bahwa metode tersebut bukan sekadar membuang atau menebarkan bibit padi sembarangan.

Cara tersebut merupakan metode pertanian yang telah lama dilakukan masyarakat setempat untuk memanfaatkan kondisi Danau Semayang ketika debit air mengalami penurunan.

Bupati Aulia, mengatakan kedatangannya ke Danau Semayang berawal dari laporan dan permohonan masyarakat yang meminta tambahan bantuan bibit padi.

Menurutnya, sebelum dirinya datang ke lokasi, masyarakat telah lebih dahulu melakukan proses penanaman secara swadaya.

“Di tahap awal kita salurkan 500 kilogram atau setengah ton bibit dan itu sudah ditebar oleh warga masyarakat yang ada di Semayang dengan cara mereka,” ujarnya, Jumat (11/9/2026).

Setelah bantuan awal disalurkan, masyarakat kembali mengajukan permohonan tambahan bibit karena masih terdapat lahan yang dapat dimanfaatkan untuk bercocok tanam.

Pemkab Kukar kemudian memberikan tambahan bantuan, sehingga total bibit yang disalurkan mencapai sekitar 1,25 ton.

Aulia mengatakan dirinya turun langsung ke Danau Semayang bersama Badan Riset dan Inovasi serta Modernisasi Pertanian (BRMP) dan jajaran Dinas Pertanian untuk melihat langsung proses pertanian yang dilakukan masyarakat.

Saat berada di lokasi, Aulia diajak masyarakat untuk ikut melakukan penanaman dengan metode yang selama ini mereka gunakan.

“Sampai di lapangan, kami diajak oleh warga masyarakat menanam padi dengan cara mereka, sebagaimana yang sudah tumbuh di atas air dan sebagaimana yang sudah kami lihat pada saat kunjungan ke lapangan,” katanya.

Menurut Aulia, metode tersebut memang terlihat tidak biasa bagi masyarakat dari luar daerah.

“Memang metodenya sangat unik, seolah-olah kita seperti menabur padi di sungai. Akan tetapi, itulah metode yang digunakan oleh warga masyarakat yang ada di sana,” ungkapnya.

Ia menegaskan, bibit padi yang sebelumnya telah ditebar masyarakat terbukti sudah tumbuh di kawasan Danau Semayang.

“Kalau orang dari luar melihat, ini seperti kita buang-buang padi. Akan tetapi faktanya di lapangan, dengan kearifan lokal seperti itu, memang itulah yang terjadi di sana,” jelasnya.

Aulia mengatakan, pemerintah daerah hanya mengikuti dan memberikan dukungan terhadap metode pertanian yang telah lama dilakukan masyarakat setempat.

Menurutnya, perubahan kondisi alam membuat sebagian besar masyarakat Semayang yang sebelumnya menggantungkan hidup sebagai nelayan kini mulai memanfaatkan lahan yang muncul akibat surutnya air untuk bertani.

“Karena hari ini 90 persen warga masyarakat Semayang yang dulunya nelayan, sekarang 90 persen bertani dan memanfaatkan kondisi alam hari ini,” ujarnya.

Selain memanfaatkan kondisi alam, metode tersebut juga dinilai memiliki biaya produksi yang relatif rendah.

Petani tidak perlu melakukan pengolahan lahan maupun memberikan perlakuan khusus seperti pada sistem persawahan konvensional.

“Tidak ada olah lahan, tidak ada treatment-treatment khusus. Mungkin unsur hara yang ada di danau itu sangat bagus. Jadi mereka tidak sambil memupuk, hanya ditabur dan kita tunggu panen,” katanya.

Meski demikian, Pemkab Kukar kini menerima laporan adanya dugaan serangan hama terhadap sebagian tanaman padi yang telah tumbuh.

Aulia mengatakan Dinas Pertanian bersama BRMP akan kembali turun ke lokasi untuk mengidentifikasi jenis hama dan memberikan penanganan kepada masyarakat.

Informasi sementara menunjukkan tanaman yang masih berada di kawasan dengan kondisi tanah berair relatif aman, sedangkan tanaman yang berada di lahan mulai mengering dilaporkan mengalami gangguan hama.

“Kami akan membantu warga masyarakat mengidentifikasi hamanya dan memberikan penanganan-penanganan sehingga tidak terjadi gagal panen,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar, Moh. Rifani, menegaskan bahwa aktivitas penanaman padi di Danau Semayang telah dilakukan masyarakat jauh sebelum kunjungan Bupati Kukar pada 1 September 2026.

Ia menyebut hampir separuh kawasan yang dapat dimanfaatkan di Danau Semayang telah lebih dahulu ditanami masyarakat secara swadaya.

“Pada saat Bupati datang tanggal 1 September, kondisinya di Danau Semayang itu hampir separuh sudah tertanam. Bahkan sudah ada padi yang umurnya sekitar 20 hari setelah tanam,” jelasnya.

Ia mengatakan masyarakat menggunakan metode tabela atau tebar benih langsung, yang dilakukan dengan memanfaatkan kondisi alam saat air danau mengalami penyusutan.

Masyarakat membeli sendiri bibit dari desa-desa sekitar dan kemudian menebarkannya di lokasi yang mereka yakini dapat ditanami.

Menurut Rifani, masyarakat Danau Semayang memiliki pengalaman dan perhitungan sendiri berdasarkan siklus kondisi alam yang terjadi dalam jangka waktu tertentu.

“Mereka ingin memanfaatkan momen yang menurut pengalaman mereka terjadi sekitar 10 tahunan,” katanya.

Rifani juga menegaskan bahwa aksi Bupati Kukar yang terlihat dalam video hanya bersifat simbolis.

Bibit yang ditebar langsung oleh Bupati di lokasi tidak sampai satu kantong berisi 25 kilogram.

Setelah kegiatan simbolis tersebut, bibit bantuan kemudian dibagikan kepada masyarakat untuk ditanam di petak masing-masing.

“Jadi, saat Bupati turun ke lokasi, benih yang ditebar sebenarnya tidak sampai satu kantong atau sekitar 25 kilogram. Penebaran tersebut hanya dilakukan secara simbolis. Setelah itu, benih-benih yang tersedia dibagikan kepada masyarakat untuk ditebar di petak lahan masing-masing,” jelasnya.

Ia menjelaskan terdapat metode khusus yang dikenal sebagai tabela air, yakni penanaman dengan cara menebarkan benih langsung di kawasan yang masih terdapat air.

Berdasarkan penjelasan yang diperoleh dari BRMP, metode tersebut juga memiliki proses seleksi alami terhadap kualitas benih.

Benih yang kosong atau tidak bernas akan mengambang di permukaan air, sedangkan benih yang bernas akan tenggelam.

Ketika debit air semakin berkurang, benih yang tenggelam tersebut berpotensi tumbuh.

“Yang mengambang itu biasanya benih-benih yang kosong. Kalau benih yang bernas, dia akan tenggelam dengan harapan ketika debit air berkurang nanti benih itu bisa tumbuh,” jelasnya.

Rifani mengatakan metode serupa pernah diterapkan di wilayah lain, termasuk di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

Sementara bagi masyarakat Danau Semayang, cara tersebut telah dilakukan secara turun-temurun.

Berdasarkan pengalaman masyarakat, metode tersebut pernah menghasilkan panen raya pada masa lalu, termasuk pada 1996-1997 dan terakhir sekitar tahun 2015.

“Pelakunya sebenarnya masyarakat sendiri. Pemerintah hanya mensupport, memberikan stimulan dan memberi semangat kepada mereka,” katanya.

Keunggulan utama metode tersebut adalah rendahnya biaya produksi karena petani tidak perlu mengolah tanah maupun menggunakan pupuk dalam jumlah besar.

“Yang pasti mereka tidak perlu pupuk dan tidak perlu mengolah tanah. Itu tentu mengurangi biaya produksi,” ujarnya.

Saat ini, Distanak Kukar memperkirakan kawasan yang telah ditanami dan sebagian tanaman padinya telah tumbuh mencapai sekitar 500 hektare.

Hampir seluruh kegiatan tersebut dilakukan secara swadaya oleh masyarakat.

Namun, Rifani belum berani memastikan luas keseluruhan kawasan yang nantinya dapat dimanfaatkan untuk pertanian.

“Minggu depan kami akan melakukan monitoring sekaligus mengecek laporan adanya serangan hama. Kalau memang perlu dibantu, tentu akan kita bantu,” katanya.

Selain Danau Semayang, metode tersebut mulai menarik perhatian masyarakat di wilayah sekitar.

Beberapa desa disebut mulai termotivasi untuk memanfaatkan kondisi serupa, di antaranya Desa Pela dan Desa Melintang yang telah menyampaikan permohonan kepada pemerintah daerah.

Bantuan tersebut merupakan bentuk dukungan terhadap masyarakat, sementara sebagian besar lahan yang sudah ditanami sebelumnya merupakan hasil usaha swadaya warga.

“Bantuan 1,25 ton itu kalau ditebar paling sekitar 20 hektare saja, sementara yang sudah tertanam itu ratusan hektare. Jadi masyarakat memang sudah lebih dulu melakukan kegiatan tersebut,” pungkasnya. (*van)

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *