Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
KUTAI KARTANEGARAUncategorized

Harga Kedelai dan Plastik Naik, Pengusaha Tempe Siasati dengan Perkecil Ukuran

287
×

Harga Kedelai dan Plastik Naik, Pengusaha Tempe Siasati dengan Perkecil Ukuran

Share this article
Tempe Yang Tersusun di Rak. (Dok. Ilham
Tempe Yang Tersusun di Rak. (Dok. Ilham
Example 468x60

KUKAR: Kenaikan harga bahan baku, khususnya kedelai dan plastik, semakin dirasakan oleh pelaku usaha kecil di sektor pangan. Kondisi ini memaksa para pengusaha tempe untuk memutar otak agar tetap bisa bertahan tanpa harus kehilangan pelanggan.

Selain menghadapi lonjakan harga kedelai yang terus merangkak naik sejak awal tahun, mereka juga terbebani dengan naiknya harga plastik sebagai bahan pembungkus. Di tengah situasi tersebut, pelaku usaha dihadapkan pada pilihan sulit antara menaikkan harga jual atau mengurangi ukuran produk.

Namun, demi menjaga daya beli masyarakat yang cenderung stabil, banyak yang memilih untuk mempertahankan harga dengan konsekuensi keuntungan yang semakin menipis.

Ilham, seorang pengusaha tempe yang menjalankan usahanya di Jalan Sangkulirang, Kelurahan Maluhu, menjadi salah satu yang merasakan langsung dampak kenaikan tersebut.

Ia mengungkapkan, kenaikan harga kedelai berlangsung secara bertahap. Pada Januari, harga naik sekitar Rp30 ribu per karung, kemudian Februari bertambah Rp10 ribu, dan kembali melonjak pada Maret hingga total kenaikan mencapai sekitar Rp75 ribu.

“Sekarang harga kedelai sudah di kisaran Rp575 ribu per karung, dari sebelumnya sekitar Rp500 ribu sampai Rp525 ribu,” ujarnya, Senin (13/4/2026).

Ia memperkirakan kenaikan harga masih akan berlanjut pada April. Sementara itu, penurunan harga biasanya baru terjadi menjelang akhir tahun, meski tidak signifikan.

“Kalau turun biasanya cuma sekitar Rp10 ribu sampai Rp40 ribu,” jelasnya.

Selain kedelai, harga plastik sebagai bahan pembungkus juga ikut mengalami kenaikan, yang turut menambah beban biaya produksi.

Untuk menyiasati kondisi tersebut, Ilham memilih tidak menaikkan harga jual tempe. Ia lebih memilih memperkecil ukuran produk agar tetap bisa dibeli oleh konsumen.

“Kalau harga dinaikkan, takutnya pembeli berkurang. Jadi kami kecilkan ukuran saja,” katanya.

Namun, langkah ini berdampak langsung pada keuntungan yang semakin menipis. Ia mengaku margin usaha berkurang, meskipun produksi tetap berjalan normal.

“Keuntungan pasti berkurang, tapi yang penting usaha tetap jalan,” ungkapnya.

Ilham juga menyebutkan, harga kedelai bisa lebih mahal jika dibeli dalam jumlah kecil. Untuk pembelian eceran, harga bahkan bisa mencapai Rp585 ribu per karung, sementara pembelian dalam jumlah besar biasanya mendapatkan potongan harga.

Dalam sehari, ia mampu memproduksi sekitar satu karung kedelai atau setara 50 kilogram. Produk tempe yang dijual bervariasi, mulai dari Rp5.000 hingga Rp15.000 tergantung ukuran.

Ia berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas harga bahan baku, terutama kedelai, agar pelaku usaha kecil seperti dirinya tetap bisa bertahan.

“Harapan kami harga bisa stabil, jangan terus naik, supaya usaha kecil tetap jalan,” tutupnya.

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *