Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
KUTAI KARTANEGARA

Fenomena Self-Diagnose dan Media Sosial Picu Risiko Gangguan Mental pada Anak Muda

216
×

Fenomena Self-Diagnose dan Media Sosial Picu Risiko Gangguan Mental pada Anak Muda

Share this article
Psikolog Klinis UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kutai Kartanegara (Kukar), Sabrina Hasyyati Maizan.(Irvan/dutakaltimnews.com
Psikolog Klinis UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kutai Kartanegara (Kukar), Sabrina Hasyyati Maizan.(Irvan/dutakaltimnews.com
Example 468x60

KUKAR: Isu kesehatan mental di kalangan anak muda kian mengkhawatirkan, di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan media sosial. Kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain hingga maraknya tren diagnosis mandiri (self-diagnose) dinilai dapat memperburuk kondisi psikologis jika tidak disikapi secara tepat.

Psikolog Klinis UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kutai Kartanegara (Kukar), Sabrina Hasyyati Maizan, menegaskan bahwa kesehatan mental harus dipandang setara dengan kesehatan fisik.

“Selama ini banyak yang menganggap kesehatan fisik lebih utama, padahal keduanya saling berhubungan,” ujarnya, Kamis (16/4/2026).

Ia menjelaskan, kesehatan mental mencakup bagaimana seseorang berpikir, merasakan, dan berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi tersebut dapat memicu berbagai gangguan seperti kecemasan hingga depresi.

Menurut Sabrina, penggunaan media sosial yang intens menjadi salah satu faktor yang turut memperbesar risiko gangguan mental. Fenomena seperti cyberbullying dan kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain menjadi pemicu yang kerap terjadi.

“Ketika seseorang terus membandingkan diri, apalagi dengan cara pandang negatif, hal itu dapat menurunkan konsep diri. Akibatnya, individu merasa tidak berharga dan berpotensi mengalami depresi atau kecemasan,” jelasnya.

Selain itu, ia juga menyoroti maraknya praktik self-diagnose di kalangan anak muda. Kebiasaan mencari informasi gejala di internet tanpa pendampingan profesional dinilai berisiko menimbulkan kesalahpahaman terhadap kondisi diri.

“Ketika seseorang langsung menyimpulkan dirinya mengalami gangguan tertentu tanpa diagnosis yang tepat, itu bisa menimbulkan stres berlebih. Bukannya membaik, kondisi justru bisa semakin terpuruk,” katanya.

Sabrina mengingatkan, diagnosis yang tidak akurat dapat memicu kecemasan berlebihan hingga mendorong perilaku berbahaya seperti menyakiti diri sendiri (self-harm). Karena itu, penanganan kesehatan mental seharusnya dilakukan oleh tenaga profesional agar individu mendapatkan pemahaman yang tepat.

“Jika ditangani oleh profesional, individu akan dibantu memahami kondisinya secara menyeluruh sekaligus mendapatkan penanganan yang sesuai,” ujarnya.

Ia juga mendorong anak muda untuk tidak ragu mencari bantuan, baik kepada psikolog, tenaga kesehatan, maupun orang terdekat. Kepedulian terhadap lingkungan sekitar dinilai menjadi salah satu kunci dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental.

“Ketika kita peduli terhadap lingkungan, kita akan lebih peka terhadap kondisi diri sendiri dan orang lain,” tuturnya.

Sabrina menambahkan, upaya menjaga kesehatan mental dapat dimulai dari kesadaran bahwa kesehatan fisik dan mental memiliki peran yang sama penting.

Dengan pemahaman tersebut, diharapkan individu maupun lingkungan sosial dapat bersama-sama menjaga kesehatan mental secara berkelanjutan. (*van)

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *