Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
ADVERTORIALKUTAI KARTANEGARA

Disdikbud Kukar Terus Dorong Pelestarian Bahasa dan Budaya Kutai di Sekolah

147
×

Disdikbud Kukar Terus Dorong Pelestarian Bahasa dan Budaya Kutai di Sekolah

Share this article
9cd36a1e 04f9 4f55 8408 9fd797d4d563
Proses Pembelajaran Siswa Siswi di SMP N 9 Tenggarong (dk)
Example 468x60

KUKAR : Upaya melestarikan budaya lokal terus digencarkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Salah satunya melalui program muatan lokal yang diterapkan di sekolah, mulai dari jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Sekolah Dasar (SD), hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Kabid Kebudayaan Disdikbud Kukar, Puji Utomo, menjelaskan bahwa muatan lokal merupakan bagian penting dalam proses pendidikan di daerah. Di bidang pendidikan, penerapan paling nyata terlihat pada PAUD, SD, dan SMP. Sedangkan di bidang kebudayaan, muatan lokal lebih banyak diarahkan pada pencatatan, dokumentasi, dan pelestarian.

“Muatan lokal yang diterapkan di sekolah antara lain pelajaran bahasa Kutai serta kewajiban menggunakan pakaian adat di hari tertentu. Program ini masih berjalan hingga sekarang,” ungkap Puji Utomo, Jumat (8/8/2025).

Menurutnya, penggunaan bahasa Kutai sebagai muatan lokal tetap diajarkan di sekolah. Hanya saja, tantangan yang dihadapi adalah keterbatasan tenaga pengajar yang benar-benar menguasai bahasa daerah tersebut.

“Kami sedang berupaya menambah tenaga pengajar, karena setiap satuan pendidikan memiliki standar khusus, terutama dalam penguasaan bahasa Kutai. Untuk PAUD sifatnya hanya pengenalan, sementara di SD dan SMP pelajaran bahasa Kutai sudah lebih terstruktur,” jelasnya.

Selain bahasa, penguatan identitas budaya juga diwujudkan melalui kewajiban siswa mengenakan pakaian adat Kutai pada hari tertentu. Kebijakan ini dinilai mampu menumbuhkan kebanggaan sekaligus memperkenalkan tradisi kepada generasi muda sejak dini.

Lebih lanjut, Puji menambahkan bahwa dukungan orang tua dan masyarakat sangat dibutuhkan agar program pelestarian budaya ini bisa berjalan maksimal. Sebab, pendidikan karakter berbasis budaya tidak hanya dibangun di ruang kelas, tetapi juga melalui pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

“Sekolah menjadi tempat awal pengenalan, namun kesinambungan nilai budaya tetap bergantung pada lingkungan keluarga dan masyarakat,” ungkapnya.

Dengan langkah ini, Disdikbud Kukar berharap generasi muda tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki identitas kuat sebagai bagian dari masyarakat Kutai. (Adv/dk)

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *