Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
KUTAI KARTANEGARA

Harga Kedelai dan Plastik Naik, Pengusaha Tempe di Tenggarong Terpaksa Perkecil Ukuran Produk

220
×

Harga Kedelai dan Plastik Naik, Pengusaha Tempe di Tenggarong Terpaksa Perkecil Ukuran Produk

Share this article
Kenaikan harga kedelai dan plastik yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir mulai dirasakan para pelaku usaha tempe di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar)
Kenaikan harga kedelai dan plastik yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir mulai dirasakan para pelaku usaha tempe di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar)
Example 468x60

KUKAR: Kenaikan harga kedelai dan plastik yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir mulai dirasakan para pelaku usaha tempe di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Salah satunya Bandar Tempe Underground milik Ilham Zakariah yang berlokasi di Jalan Sangkulirang RT 2 Nomor 23, Kelurahan Loa Ipuh, Kecamatan Tenggarong.

Ilham mengaku lonjakan harga bahan baku memaksanya melakukan penyesuaian ukuran tempe agar harga jual tetap terjangkau bagi masyarakat.

“Untuk sekarang ukuran tempe agak mengecil karena mengikuti harga bahan baku. Kalau harga dinaikkan, kebanyakan orang tidak mau beli dan bisa beralih ke penjual lain karena persaingan cukup ketat,” ujarnya.

Dalam sehari, Ilham mampu memproduksi sekitar 50 kilogram tempe untuk memenuhi kebutuhan pasar yang telah menjadi langganannya.

Ia menjelaskan proses pembuatan tempe membutuhkan waktu sekitar empat hari hingga siap dipasarkan. Hari pertama digunakan untuk merendam kedelai, hari kedua proses penggilingan, perebusan, dan pengemasan, hari ketiga proses penataan dan fermentasi, sedangkan pada hari keempat tempe sudah siap dijual ke pasar sejak dini hari.

Untuk harga, Ilham menawarkan tiga ukuran tempe. Ukuran kecil dijual kepada agen dengan harga Rp5.000 untuk tiga papan. Ukuran sedang dijual Rp10.000 untuk tiga papan, sedangkan ukuran jumbo atau besar dijual Rp10.000 per papan.

Dalam memenuhi kebutuhan produksi, Ilham biasanya membeli sekitar 30 karung kedelai sekaligus. Setiap karung berisi 50 kilogram dan digunakan untuk kebutuhan produksi selama kurang lebih satu bulan.

“Harga kedelai sekarang sudah Rp585 ribu per karung. Awal tahun lalu masih sekitar Rp500 ribu. Jadi dalam setengah tahun ini naik sekitar Rp85 ribu,” ungkapnya.

Meski demikian, ia mengaku para pelanggan maupun agen yang mengambil tempe darinya sejauh ini belum banyak mengeluhkan kondisi tersebut karena memahami kenaikan harga bahan baku yang terjadi.

“Keluhan tidak ada. Mereka sudah tahu harga bahan baku naik, jadi maklum saja,” katanya.

Kenaikan harga kedelai yang terus berlanjut dikhawatirkan akan semakin membebani pelaku usaha kecil, khususnya mereka yang baru merintis usaha.

“Harapannya jangan naik lagi. Kalau terus naik, itu akan menekan pengusaha yang baru memulai. Kalau usaha yang sudah besar mungkin masih bisa bertahan karena sudah punya pelanggan tetap, tetapi yang baru merintis bisa sangat berat,” ujarnya.

Saat ini usaha tempe miliknya juga telah mempekerjakan satu orang karyawan untuk membantu proses penjualan dan distribusi hasil produksi.

“Kalau produksi 50 kilo masih bisa untuk menggaji satu orang. Tapi kalau harga bahan baku naik lagi, saya khawatir akan semakin sulit,” katanya.

Ilham sendiri merupakan generasi penerus usaha tempe keluarga. Ia telah mengenal usaha tersebut sejak kecil karena orang tuanya juga berprofesi sebagai pengrajin tempe. Sementara untuk usaha yang dikelolanya sendiri, ia mulai merintis sejak tahun 2019 dan terus bertahan hingga sekarang.

Di tengah kenaikan harga kedelai, Ilham berharap pemerintah dapat memperhatikan stabilitas harga bahan baku agar usaha mikro dan kecil yang bergerak di sektor pangan tetap mampu bertahan dan berkembang. (*van)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *