KUKAR : Angka putus sekolah di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) masih cukup tinggi, yakni mencapai kurang lebih 6.800 anak. Kondisi ini menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Kukar melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud), yang kini berfokus pada strategi penanganan lintas sektor agar anak-anak dapat kembali mengakses pendidikan.
Plt Sekretaris Disdikbud Kukar, Pujianto, mengungkapkan bahwa pihaknya tengah melakukan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari Kementerian Agama, lintas sekolah hingga organisasi perangkat daerah (OPD) terkait. Tujuannya untuk melacak dan mendampingi anak-anak yang terindikasi keluar dari jalur pendidikan.
“Anak-anak yang masuk kategori putus sekolah ini sebenarnya pernah terdata di sekolah. Hanya saja datanya hilang dari sistem pendidikan. Maka, kami perlu memastikan apakah mereka benar-benar keluar atau hanya tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya,” jelas Pujianto, Senin (8/9/2025).
Menurutnya, salah satu sumber utama informasi yang digunakan adalah Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Melalui sistem ini, dapat diketahui asal sekolah, tingkat kelas terakhir, hingga alasan anak tersebut tercatat tidak aktif lagi. Data ini menjadi acuan awal untuk menentukan langkah intervensi berikutnya.
Langkah yang kini ditempuh Disdikbud meliputi verifikasi data, pendampingan, hingga edukasi bagi anak-anak maupun orang tua mereka. Setelah itu, mereka didorong untuk kembali bersekolah melalui jalur formal. Jika jalur formal tidak memungkinkan, maka disediakan alternatif pendidikan non-formal berupa paket A, B, dan C.
“Alhamdulillah dalam dua tahun terakhir ini, jumlah peserta didik di pendidikan kesetaraan meningkat signifikan. Jika sebelumnya hanya sekitar 3.500 murid, kini sudah mencapai 8.500 lebih. Artinya, semakin banyak anak-anak yang mau melanjutkan sekolah lewat jalur non-formal,” terang Pujianto.
Peningkatan jumlah warga belajar di program kesetaraan tersebut, kata dia, menjadi bukti bahwa upaya sosialisasi dan kolaborasi yang dilakukan mulai menunjukkan hasil positif. Hal ini sekaligus memperlihatkan bahwa masyarakat semakin sadar pentingnya pendidikan meskipun tidak lagi ditempuh melalui jalur sekolah reguler.
Ke depan, Disdikbud Kukar menegaskan akan terus memperkuat koordinasi dengan seluruh pihak terkait, serta melakukan inovasi program agar tidak ada lagi anak di Kukar yang kehilangan kesempatan belajar.
“Kami berharap, dengan langkah terstruktur dan kolaboratif ini, angka putus sekolah di Kukar dapat ditekan secara signifikan,” tutupnya (Adv/and)

















