KUKAR : Masih ada sekitar 5.000 warga di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) yang masuk kategori buta aksara. Mereka belum sepenuhnya memiliki kemampuan dasar membaca, menulis, dan berhitung. Kondisi ini tak hanya dipengaruhi oleh keterbatasan fasilitas pendidikan di masa lalu, tetapi juga pilihan masyarakat yang lebih mengutamakan bekerja dibanding bersekolah.
Plt. Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar, Pujianto, menyebut mayoritas warga buta aksara adalah kelompok lanjut usia yang sudah berumur di atas 50 tahun. Namun, ada pula warga usia sekolah yang memilih jalur pendidikan non-formal di pesantren, sehingga tidak tercatat di data sekolah formal.
“Kalau dilihat dari data, jumlah buta aksara memang cukup banyak. Tapi rata-rata yang terjaring adalah orang tua atau lansia. Sedangkan anak-anak sekarang, hampir semuanya sudah bisa membaca meskipun tidak masuk sekolah formal,” jelasnya, Senin (8/9/2025).
Untuk menekan jumlah warga buta aksara, Disdikbud Kukar menjalankan program keaksaraan dasar dan keaksaraan usaha mandiri melalui PKBM dan SKB. Program ini memberi kesempatan bagi masyarakat yang belum bisa baca-tulis agar mendapatkan pendidikan setara dengan tingkat dasar, sekaligus sertifikat resmi bernama Surat Keterangan Melek Aksara (SUKMA).
Lebih jauh, program keaksaraan usaha mandiri juga dirancang untuk meningkatkan keterampilan hidup. Peserta tidak hanya belajar membaca dan menulis, tapi juga dilatih agar bisa mengembangkan usaha kecil, sehingga lebih produktif secara ekonomi.
Menurut Pujianto, tantangan terbesar ada pada pola pikir masyarakat. Sebagian warga, terutama generasi lama, masih menganggap sekolah tidak terlalu penting. Mereka lebih memilih bekerja sejak dini sehingga melewatkan kesempatan belajar.
“Mindset ini yang harus kita ubah, bahwa pendidikan adalah kunci untuk membuka peluang yang lebih baik,” tambahnya.
Meski begitu, pemerintah melihat adanya perkembangan positif. Kesadaran masyarakat untuk mengikuti pendidikan non-formal mulai meningkat, dan jumlah peserta program keaksaraan terus bertambah dari tahun ke tahun.
Dengan dukungan lintas pihak, Disdikbud Kukar optimistis buta aksara dapat terus ditekan hingga akhirnya hilang dari Kukar. Pemerintah berharap, generasi mendatang tidak lagi terhambat oleh keterbatasan literasi dasar dan mampu bersaing di era modern. (Adv/and)

















