KUKAR : Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Kartanegara mengajak sekolah-sekolah untuk lebih serius mengembangkan kegiatan ekstrakurikuler seni dan budaya. Dorongan ini disampaikan langsung oleh Kepala Disdikbud Kukar, Thauhid Afrillian Noor, yang menilai pembinaan seni di sekolah masih terbatas pada acara-acara tertentu saja.
Menurutnya, banyak sekolah hanya menampilkan kreativitas siswa saat momen perpisahan, padahal seni seharusnya menjadi bagian dari pembelajaran karakter yang dibangun secara berkelanjutan.
“Kalau mau menampilkan anak-anak dalam tarian, jangan menunggu acara perpisahan. Kalau perlu, tiga bulan sekali tampilkan mereka dalam agenda seni di sekolah,” ujarnya belum lama ini.
Thauhid menekankan, kegiatan seni seperti tari, musik, maupun drama dapat menjadi wadah pembentukan kepercayaan diri, tanggung jawab, serta kerja sama tim di kalangan siswa. Karena itu, sekolah didorong untuk menggelar pentas seni secara rutin agar siswa memiliki ruang ekspresi yang konsisten.
“Jangan sampai hanya sekadar alasan ingin menampilkan anak-anak saat perpisahan, lalu kegiatannya baru dilakukan menjelang akhir tahun. Kita ingin pembinaan ekskul seni dilakukan sejak awal,” tegasnya.
Meski demikian, Thauhid mengakui masih sangat sedikit sekolah yang menjalankan pola tersebut secara konsisten.
“Kalau ditanya apakah sejauh ini ada sekolah yang rutin menampilkan kesenian atau kebudayaan, saya belum mendapat laporan,” ungkapnya.
Kondisi ini menjadi perhatian Disdikbud Kukar untuk terus mendorong kepala sekolah dan guru pendamping agar tidak ragu memulai langkah-langkah kecil. Pentas seni tidak harus diselenggarakan dengan skala besar, melainkan cukup dilakukan di lingkungan sekolah dengan melibatkan siswa, guru, dan orang tua.
“Harapannya, pentas seni triwulanan bisa menjadi budaya baru di sekolah. Tidak perlu besar atau mewah, yang penting siswa mendapat ruang tampil dan berproses,” pungkasnya. (Adv/and)

















