Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
KUTAI KARTANEGARA

Dapur SPPG di Tenggarong Pastikan Distribusi Makanan Bergizi Aman untuk Ribuan Penerima Manfaat

417
×

Dapur SPPG di Tenggarong Pastikan Distribusi Makanan Bergizi Aman untuk Ribuan Penerima Manfaat

Share this article
 Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Penjaitan. (Irvan
 Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Penjaitan. (Irvan
Example 468x60

KUKAR: Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berlokasi di Jalan Penjaitan, Gang Masjid Agung 1, RT 01 No. 45, Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), terus memastikan layanan distribusi makanan bergizi kepada ribuan penerima manfaat berjalan dengan baik.

Kepala SPPG, Idam mengatakan, saat ini dapur tersebut melayani enam sekolah, terdiri dari 2 SMP dan 4 SD, yakni SMPN 1, SMPN 2, serta SDN 018, SDN 011, dan SDN 01 hingga SDN 03 Tenggarong.

Para karyawan juga diwajibkan menggunakan perlindungan keamanan, seperti penutup kepala, masker, apron, sarung tangan dan alas kaki, supaya ruangan tetap steril dan makanan yang disajikan tetap memenuhi standar kesehatan yang ditentukan.

Idam menegaskan pihaknya selalu berkoordinasi dengan pemerintah daerah, khususnya Dinas Kesehatan, untuk menjamin keamanan pangan.

“Kami ini dapur mandiri, tidak bekerja sama langsung dengan pemerintah untuk MBG (Makan Bergizi Gratis), tapi tetap koordinasi terkait food safety agar makanan aman dikonsumsi,” ujarnya, Selasa (7/10/2025).

Pengawasan dari dinas dilakukan secara rutin, termasuk pengecekan kelayakan makanan dan air yang digunakan.

Bahkan baru-baru ini, pihak Dinas Kesehatan mengambil sampel makanan sebagai bagian dari proses sertifikasi halal.

“Sertifikasi ini penting, untuk menjamin makanan yang kami distribusikan benar-benar aman bagi anak-anak,” tambahnya.

Standar gizi untuk setiap jenjang sekolah juga telah ditetapkan dan dipenuhi secara konsisten.

Komposisi menu selalu memperhatikan porsi potongan buah, sayur, serta kebutuhan energi yang sesuai.

“Menu disusun oleh ahli gizi, diverifikasi bersama tim keuangan dan koki, lalu dimasukkan ke siklus menu lima harian. Jadi distribusi makanan terencana dan sesuai standar,” ujarnya.

Untuk menjaga kualitas, uji sampel makanan dan evaluasi dilakukan secara berkala.

Penggunaan MSG tidak dilakukan di dapur ini. Sebagai pengganti, digunakan bahan alami, seperti kaldu jamur agar cita rasa tetap terjaga tanpa mengurangi nilai gizi.

Respons dari pihak sekolah dan orangtua murid, sejauh ini sangat positif. Mereka mengaku terbantu karena anak-anak bisa mendapatkan makanan bergizi secara rutin.

“Waktu distribusi sempat berhenti, orangtua dan siswa banyak yang menanyakan kapan jalan lagi. Setelah Agustus kemarin mulai lagi, antusiasnya sangat tinggi,” ucapnya.

Bantuan makanan bergizi ini, juga meringankan beban orangtua. Jika sebelumnya mereka harus menyiapkan uang saku ekstra, kini dana tersebut bisa dialihkan untuk kebutuhan lain.

Hal ini membuat program tersebut semakin dirasakan manfaatnya di masyarakat. Meskipun begitu, tantangan tetap ada, terutama dalam penyediaan bahan makanan.

Kadang-kadang bahan yang direncanakan sulit didapat atau kualitasnya kurang baik ketika sampai di dapur.

“Kalau pisang sulit didapat, kami ganti dengan buah lain. Untungnya komunikasi dengan supplier lokal baik, jadi kendala bisa segera diatasi,” kata Idam.

Menariknya, bahan-bahan makanan di dapur ini sebagian besar dipasok dari petani lokal. Selain menjaga kesegaran, langkah ini juga membantu memberdayakan masyarakat sekitar.

“Kami ingin MBG ini tidak hanya bermanfaat bagi penerima, tapi juga memberi dampak ekonomi bagi petani lokal,” ujarnya.

Saat ini dapur SPPG Panjaitan melibatkan 47 karyawan relawan, 2 petugas keamanan, serta 3 staf dari BGN, termasuk ahli gizi dan akuntansi.

Mereka bekerja memastikan setiap menu yang keluar sesuai dengan standar gizi dan anggaran yang tersedia. Dapur ini kini melayani 3.400 penerima manfaat dari target maksimal 4.000 orang.

Ke depan, SPPG Panjaitan berencana memperluas layanan kepada kelompok 3B, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

“Untuk penambahan sekolah, tidak ada lagi, fokus kami ke kelompok 3B. Harapannya layanan ini semakin meluas dan memberi manfaat lebih besar,” ucapnya.(*van)

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *