KUKAR: Kondisi kabut asap yang semakin tebal di sejumlah wilayah Kutai Kartanegara (Kukar) mulai mendapat perhatian dari pihak sekolah. SDN 001 Tenggarong, misalnya, telah mewajibkan peserta didiknya menggunakan masker sebagai langkah antisipasi terhadap dampak buruk kualitas udara.
Kepala SDN 001 Tenggarong, Siti Syahrah, mengatakan pihak sekolah telah mengimbau seluruh siswa menggunakan masker sejak Senin. Kebijakan tersebut diambil karena kondisi asap dinilai semakin parah dan dikhawatirkan mengganggu kesehatan siswa.
“Mulai Senin sudah kami sampaikan. Hari ini sudah mulai dilaksanakan. Anak-anak kami wajibkan memakai masker karena kondisi asap semakin parah. Kami takut anak-anak mengalami sesak atau gangguan kesehatan lainnya,” kata Siti Selasa (1/9/2026).
Menurutnya, sejauh ini belum ada laporan mengenai siswa yang mengalami gangguan kesehatan serius akibat kabut asap. Namun, sejumlah siswa mulai mengalami keluhan ringan seperti demam, batuk, dan pilek.
“Musim dan cuaca seperti ini memang banyak yang sakit. Sudah ada yang sakit, tetapi masih biasa, seperti demam, batuk, dan pilek. Debu dan asap juga membuat anak-anak agak sesak dan batuk,” ujarnya.
Siti menambahkan, hingga saat ini pihak sekolah belum menerima instruksi resmi dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar mengenai pelaksanaan pembelajaran daring. Informasi mengenai kebijakan tersebut, kata dia, biasanya disampaikan secara berjenjang mulai dari pemerintah daerah, dinas, koordinator wilayah, hingga sekolah.
“Kami masih mengikuti arahan. Kalau memang pembelajaran dilakukan secara daring, kami siap. Waktu pandemi Covid-19 kami juga sudah melaksanakan pembelajaran secara online,” jelasnya.
Selain penggunaan masker, pihak sekolah juga mengimbau siswa untuk mengurangi aktivitas di luar rumah apabila tidak ada keperluan mendesak. Siswa diminta tetap menjaga kesehatan dan berhati-hati terhadap potensi kebakaran di tengah kondisi cuaca dan kabut asap.
Siti mengatakan, siswa yang sudah mampu memasak sendiri di rumah juga diingatkan untuk memastikan kompor telah dimatikan sebelum meninggalkan dapur.
“Kalau anak-anak sudah bisa memasak sendiri, kami selalu mengingatkan agar kompor dicek kembali sebelum keluar rumah. Jangan sampai karena asyik bermain gim, lupa masih memasak. Ini kami sampaikan setiap hari karena kondisi seperti sekarang juga rawan kebakaran,” tuturnya.
Ia berharap para siswa tidak keluar rumah jika tidak memiliki kepentingan yang mendesak, mengingat kondisi udara saat ini dinilai semakin tidak baik.
“Kalau tidak penting, jangan keluar rumah karena asapnya saat ini tidak baik. Semakin tebal,” katanya.
Sementara itu, Bupati Kukar Aulia Rahman Basri mengatakan kondisi udara di wilayah Kalimantan Timur saat ini sudah kurang sehat untuk aktivitas di luar ruangan.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar tengah menyiapkan kebijakan pembelajaran secara daring bagi siswa. Kebijakan tersebut diharapkan dapat mengurangi aktivitas anak-anak di luar rumah selama kondisi udara belum membaik.
“Untuk seluruh wilayah Kalimantan Timur, kondisi udara saat ini memang sudah kurang sehat untuk aktivitas di luar ruangan. Oleh karenanya, kami akan mengambil kebijakan agar anak-anak sekolah belajar secara daring dari rumah,” kata Aulia.
Ia meminta para orang tua turut memastikan anak-anak tetap berada di rumah dan menjaga kesehatan selama kondisi udara memburuk.
Pemkab Kukar juga mengimbau masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan untuk menggunakan masker sebagai alat pelindung diri.
“Kami mengimbau melalui Dinas Kesehatan kepada seluruh warga masyarakat agar ketika beraktivitas di luar gedung atau di tempat terbuka menggunakan alat pelindung diri berupa masker,” ujarnya.
Aulia menyebutkan, pembelajaran daring kemungkinan mulai diterapkan pada Kamis. Saat ini pemerintah masih melakukan persiapan, termasuk memastikan infrastruktur pendukung pembelajaran daring dapat digunakan dengan baik.
“Kemungkinan pembelajaran daring akan mulai dilaksanakan pada Kamis. Saat ini kami sedang menyiapkan infrastrukturnya. Kalau sekarang prosesnya masih dalam tahap persiapan dan percobaan,” jelasnya.
Menurutnya, kebijakan pembelajaran daring tersebut tidak akan ditetapkan dalam jangka waktu yang panjang sekaligus. Pemerintah akan mengevaluasinya secara berkala berdasarkan perkembangan kondisi udara.
“Rentang waktunya akan dibuat per minggu dan akan dievaluasi setiap minggu. Jadi, kebijakan ini akan terus kita evaluasi sesuai dengan perkembangan kondisi udara,” tutupnya. (and)

















