KUKAR: Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) terus meningkatkan kesiapsiagaan penanggulangan kebakaran di kawasan permukiman padat penduduk, dengan menghadirkan sistem instalasi pemadam kebakaran berupa hydrant kering.
Salah satu hydrant kering dipasang oleh Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmatan) Kukar di bantaran Sungai Tenggarong, tepatnya di Jalan Kartini, Kelurahan Melayu. Peralatan tersebut ditinjau langsung oleh Wakil Bupati Kukar, Rendi Solihin, sebagai bagian dari uji coba penerapan sistem baru pemadaman kebakaran.
Dengan adanya hydrant ini diharapkan mampu mempercepat penanganan kebakaran, khususnya di wilayah yang memiliki keterbatasan sumber air.
Wakil Bupati Kukar, Rendi Solihin, menjelaskan bahwa hydrant kering yang ditinjau merupakan pilot project pertama yang diterapkan di Kukar.
“Selama ini beberapa hydrant masih menggunakan tekanan air PDAM, yang tentu berisiko merusak jaringan perpipaan di rumah-rumah warga. Karena itu, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran berinisiatif menghadirkan pilot project hydrant kering,” ujar Rendi, usai melakukan Peninjauan hydrant kering di Jalan Kartini, Kelurahan Melayu, pada Rabu (7/1/2026).
Menurut Rendi, sistem hydrant kering telah banyak digunakan di kota-kota besar di Indonesia karena dinilai lebih fleksibel dan aman diterapkan di kawasan permukiman padat penduduk. Ke depan, Pemkab Kukar berencana menerapkan sistem ini secara bertahap, tidak hanya di wilayah perkotaan, tetapi juga menjangkau kampung-kampung di 20 kecamatan.
“Kita punya banyak kawasan permukiman padat dan kampung-kampung yang masuk kategori kumuh. Berdasarkan data, jumlah titik kampung kumuh di Kukar lebih dari 30 titik. Wilayah-wilayah ini sangat rawan jika terjadi kebakaran, sehingga perlu perhatian khusus,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Disdamkarmatan Kukar, Fida Hurasani, mengungkapkan bahwa pengembangan hydrant kering berangkat dari diskusi panjang bersama Wakil Bupati Kukar terkait penanganan kebakaran di wilayah yang sulit sumber air, khususnya daerah pesisir dan kampung yang hanya memiliki akses air laut atau air payau.
“Kami sebenarnya memiliki mesin hydrant, tetapi kendalanya ada pada pipanisasi. Penggunaan PDAM juga tidak bisa disamaratakan, karena kondisi tiap kecamatan berbeda,” ungkap Fida.
Ia menyebutkan, selama hampir dua tahun pihaknya mencari solusi terbaik untuk wilayah minim sumber air, seperti kawasan Danau Aji dan daerah pesisir. Melalui berbagai masukan dan uji coba, akhirnya ditemukan pola pipanisasi yang dinilai lebih kuat dan mampu menjangkau jarak hingga satu kilometer, melampaui perkiraan awal.
“Hari ini kita buktikan langsung. Dengan tekanan tertentu, air bisa mengalir sampai satu kilometer. Itu yang membuat saya berani mengajak Pak Wakil untuk melihat langsung,” jelasnya.
Fida menegaskan, sistem hydrant kering ini bersifat sederhana, tidak rumit, dan relatif lebih terjangkau. Yang terpenting adalah memastikan ketersediaan sumber air, mesin pemadam, serta penggunaan pipa standar yang mampu menahan tekanan dalam jangka waktu lama.
Ke depan, Disdamkarmatan Kukar akan memetakan wilayah-wilayah rawan kebakaran, termasuk kawasan Samboja dan kampung-kampung padat lainnya, untuk penerapan hydrant kering secara bertahap. Dengan jangkauan hingga satu kilometer, satu titik hydrant kering dinilai mampu melayani kebutuhan pemadaman untuk dua hingga tiga RT.
“Bukan untuk mendahului musibah, tetapi ini adalah bagian dari kesiapan kita sebagai aparat. Kunci pemadaman itu ada di air, dan kita harus memastikan sumber air selalu siap dalam situasi apa pun,” tutupnya. (*van)

















