KUKAR: Pembinaan warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Tenggarong masih menghadapi tantangan besar. Dari sekitar 1.300 warga binaan, baru 31 orang yang terlibat dalam kegiatan produktif yang memberikan keterampilan sekaligus peluang memperoleh premi atau imbalan kerja.
Kondisi tersebut mendorong Lapas Tenggarong memperkuat pola pembinaan melalui program Simpul Berdaya. Program ini dirancang untuk memperluas keterlibatan warga binaan dalam kegiatan produktif dengan mengintegrasikan pelatihan, pengelolaan usaha, hingga pemasaran hasil produksi.
Kepala Lapas Kelas IIA Tenggarong, I Wayan Nurasta Wibawa, mengatakan pembinaan warga binaan membutuhkan dukungan konkret dari berbagai pihak agar dapat berjalan optimal.
Menurutnya, tugas pemasyarakatan saat ini tidak cukup hanya berfokus pada pelaksanaan hukuman. Warga binaan juga perlu memperoleh kesempatan untuk mengembangkan keterampilan sebagai bekal ketika kembali ke tengah masyarakat.
“Kalau hanya berbicara tentang pendapat, itu mudah. Namun, ketika melaksanakannya, kami membutuhkan dukungan nyata,” ujarnya Selasa (27/10/2026).
Wayan menjelaskan, tantangan pembinaan bukan hanya menyediakan kegiatan bagi warga binaan, tetapi juga memastikan kegiatan tersebut mampu memberikan manfaat dan berlangsung secara berkelanjutan.
Karena itu, melalui Simpul Berdaya, Lapas Tenggarong berupaya membangun sinergi dengan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), perguruan tinggi, serta pihak swasta.
Salah satu bentuk kegiatan yang telah berjalan adalah pengelolaan lahan seluas 5,6 hektare untuk mendukung ketahanan pangan. Di lokasi tersebut, Lapas Tenggarong mengembangkan peternakan ayam petelur dengan populasi sekitar 8.000 ekor.
Dalam kondisi normal, peternakan itu mampu menghasilkan sekitar 6.000 hingga 7.000 butir telur per hari. Selain peternakan, lahan yang tersedia juga diarahkan untuk kegiatan pertanian dengan melibatkan warga binaan.
Sebelum diterjunkan ke lapangan, warga binaan akan mendapatkan pelatihan pertanian dari Balai Pelatihan Pertanian dan Perkebunan (BPPP) di Samarinda. Langkah tersebut dilakukan agar mereka memiliki keterampilan yang sesuai dengan bidang pekerjaan yang dijalani.
Lapas Tenggarong juga menjalin kerja sama dengan Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) untuk mendukung perencanaan dan pengembangan pembinaan.
Meski memiliki potensi produksi, Wayan menegaskan bahwa persoalan pemasaran masih perlu mendapat perhatian. Menurutnya, hasil peternakan maupun pertanian harus memiliki jalur pemasaran yang jelas agar usaha tersebut dapat berkembang dan memberikan manfaat ekonomi.
“Dalam program Simpul Berdaya ini, kami ingin mengintegrasikan semuanya, mulai dari pelatihan, pengerjaan, hingga pemasaran. Kami tidak bisa bekerja sendiri,” tegasnya.
Sementara itu, Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri, menilai kolaborasi antarlembaga menjadi faktor penting dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi pemerintah maupun institusi pelayanan publik.
Ia menyatakan Pemkab Kukar siap memperkuat koordinasi dengan Lapas Tenggarong dan unsur Forkopimda untuk mendukung pelaksanaan program yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Banyak hal yang bisa kita kerjakan bersama. Dengan koordinasi yang baik, beban-beban itu bisa kita pikul dan kita selesaikan dengan baik,” kata Aulia.
Ia juga mengapresiasi inisiatif Kepala Lapas Tenggarong yang dinilai terus berupaya melakukan perubahan dan mengembangkan potensi yang tersedia.
Melalui Simpul Berdaya, Lapas Tenggarong diharapkan mampu memperluas kesempatan warga binaan untuk mengikuti kegiatan produktif. Dengan pembinaan yang terarah dan dukungan lintas sektor, warga binaan diharapkan memiliki bekal keterampilan untuk membangun kehidupan yang lebih mandiri setelah menyelesaikan masa pidana. (and)

















