KUKAR: Ketersediaan pangan di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) dipastikan masih aman hingga akhir tahun 2026. Pemerintah Kabupaten Kukar juga menyiapkan cadangan pangan untuk membantu masyarakat yang terdampak kekeringan dan mengalami gagal panen.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kukar, Ananias, mengatakan stok Cadangan Pangan Pemerintah yang tersedia saat ini masih cukup. Di gudang Bulog, Kukar masih memiliki sekitar 280 ton cadangan pangan.
Menurutnya, stok tersebut diproyeksikan mampu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat hingga akhir tahun, termasuk untuk mengantisipasi dampak musim kemarau yang masih berlangsung.
Namun demikian, Dinas Ketahanan Pangan Kukar melakukan pemantauan terhadap tanaman pertanian yang terdampak kekeringan.
“Kita lihat nanti laporan dari lapangan. Yang jelas saat ini kita berupaya supaya tanaman-tanaman padi yang saat ini sudah ada itu tidak mengalami kekeringan ekstrem kemudian gagal panen,” ujarnya, Jumat (12/9/2026).
Ia mengungkapkan, sejumlah titik dilaporkan telah mengalami gagal panen. Beberapa di antaranya berada di wilayah Tenggarong dan Loa Kulu, sementara daerah kecamatan lainnya masih dalam proses pengecekan dan verifikasi di lapangan.
Verifikasi tersebut dilakukan untuk memastikan jumlah warga yang benar-benar terdampak gagal panen. Sebab, penyaluran cadangan pangan pemerintah dilakukan berdasarkan data by name by address, sehingga jumlah jiwa terdampak harus dipastikan secara akurat.
“Dari luasan yang terdampak kekeringan dan mengalami gagal panen itu, berapa jiwa yang terdampak, itu yang nanti akan kita intervensi dari pemerintah kabupaten,” jelasnya.
Ananias menegaskan, bantuan pangan akan segera disalurkan setelah data hasil verifikasi dinyatakan final. Mengingat kondisi tersebut bersifat darurat, pemerintah tidak ingin masyarakat terlalu lama menunggu bantuan.
“Kalau verifikasi satu sampai dua hari ini selesai dalam minggu ini, akan kita salurkan. Kalau hari ini kita selesaikan, besok sudah bisa kita salurkan,” ungkapnya.
Berdasarkan ketentuan yang menjadi acuan pemerintah daerah, warga yang terdampak gagal panen akan mendapatkan bantuan pangan selama dua bulan atau 60 hari. Setiap orang akan menerima jatah beras sebanyak 300 gram per hari.
Dengan perhitungan tersebut, setiap warga terdampak akan menerima total 18 kilogram beras selama dua bulan.
Ananias menambahkan, tidak ada kecamatan tertentu yang menjadi prioritas dalam penyaluran bantuan. Seluruh warga Kukar yang mengalami gagal panen akan mendapatkan bantuan tanpa membedakan wilayah.
“Siapapun yang mengalami gagal panen, kita bantu. Bahkan satu atau dua jiwa yang mengalami gagal panen akan kita bantu,” tegasnya.
Pihaknya juga bekerja sama dengan pemerintah desa dan penyuluh pertanian untuk memastikan tidak ada warga terdampak yang terlewat dalam pendataan.
Sementara itu, salah seorang petani asal Desa Persiapan Loa Duri Seberang, Kecamatan Loa Janan, Milianus Lingansera, mengatakan kekeringan menyebabkan sejumlah petani di wilayahnya gagal memanen padi.
Menurutnya, terdapat sekitar 7 hektare lahan pertanian yang mengalami gagal panen total akibat kekurangan air. Padi yang ditanam di lahan tersebut tidak dapat dipanen karena hasilnya sudah tidak layak diambil.
“Harusnya sudah panen, ternyata ada teman-teman yang tanamnya terkendala air. Ada sekitar 7 hektare yang gagal panen total,” ujarnya.
Ia menyebut, sedikitnya sekitar 20 petani terdampak gagal panen akibat kondisi tersebut. Para petani yang terdampak juga telah dilaporkan untuk mendapatkan bantuan ketahanan pangan dari pemerintah.
“Jadi itu katanya sudah disiapkan untuk bantuan ketahanan pangannya,” tuturnya.
Milianus berharap proses pendataan dapat segera diselesaikan sehingga bantuan pangan bagi para petani terdampak kekeringan bisa segera disalurkan.
“Jadi, tinggal menunggu data selesai. Kalau datanya sudah clear, mudah-mudahan bantuan ketahanan pangan tersebut bisa segera turun dari Dinas Ketahanan Pangan,” pungkasnya. (*van)

















