Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
KUTAI KARTANEGARA

Karhutla Hanguskan 1.704 Hektare Lahan di Kukar, Water Bombing Dikerahkan di Lima Kecamatan

275
×

Karhutla Hanguskan 1.704 Hektare Lahan di Kukar, Water Bombing Dikerahkan di Lima Kecamatan

Share this article
Helikopter water bombing melakukan pemadaman Karhutla di wilayah Kukar. (Istimewa)
Helikopter water bombing melakukan pemadaman Karhutla di wilayah Kukar. (Istimewa)
Example 468x60

KUKAR: Sebanyak 216 peristiwa kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dengan total 1.704 hektare lahan terdampak tercatat terjadi di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) hingga saat ini.

Untuk mempercepat penanganan, pemerintah mulai mengerahkan water bombing di lima kecamatan, yakni Muara Badak, Anggana, Sanga-Sanga, Muara Jawa, dan Samboja.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kukar, Setianto Nugroho Aji, mengatakan hingga hari ini tercatat sebanyak 216 kejadian Karhutla dengan total luasan lahan terdampak mencapai 1.704 hektare.

Jumlah tersebut menjadikan Kukar sebagai daerah dengan luasan lahan Karhutla terluas di Kalimantan Timur. Sementara dari jumlah laporan kejadian kebakaran, Kukar berada di posisi kedua setelah Kabupaten Paser yang tercatat mencapai 287 kejadian.

Sebagai upaya mempercepat penanganan, BPBD Kukar telah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk melaksanakan operasi water bombing.

“Dalam rangka penanganan Karhutla khusus di Kabupaten Kukar, kami telah berkoordinasi dengan pemerintah provinsi dan BNPB untuk melaksanakan water bombing membantu pemadaman yang ada di lapangan,” ujarnya, Kamis (10/9/2026).

Operasi water bombing tersebut direncanakan menyasar lima kecamatan, yakni Muara Badak, Anggana, Sanga-Sanga, Muara Jawa dan Samboja.

Pelaksanaan operasi telah dimulai pada Kamis (10/9/2026) dengan lokasi awal di Kecamatan Muara Badak, khususnya di kawasan Desa Saliki dan Tanjung Limau.

“Alhamdulillah hari ini sudah dimulai untuk wilayah Kukar. Dalam satu hari dilakukan dua sortie, pagi dan siang,” ungkapnya.

Menurut Setianto, pengerahan helikopter water bombing dilakukan untuk membantu regu pemadam yang telah bekerja di lapangan, terutama dalam menangani titik api yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

Upaya tersebut juga diharapkan dapat meningkatkan efisiensi serta mempercepat proses pengendalian Karhutla di wilayah Kukar.

“Kami membantu regu pemadaman yang ada di lapangan apabila masih memerlukan pemadaman lanjutan, terutama titik-titik api yang tidak terjangkau. Ini untuk efisiensi dan mempercepat penanganan Karhutla,” jelasnya.

BPBD Kukar juga meminta seluruh pihak, mulai dari pejabat daerah, relawan hingga tim mitigasi di lapangan, untuk melakukan pemantauan terhadap hasil water bombing.

Hal tersebut penting dilakukan untuk memastikan air yang dijatuhkan dari helikopter tepat mengenai lokasi kebakaran, mengingat arah jatuh air dapat berubah akibat pengaruh angin.

“Kami minta bantuan melalui grup mitigasi kepada pejabat maupun tim relawan untuk memantau hasil water bombing, apakah sudah tepat posisi jatuhnya air atau mungkin ada pergeseran sehingga bisa dilakukan pengulangan,” katanya.

Meski operasi pemadaman terus dilakukan, Setianto mengakui sejumlah titik api masih ditemukan di beberapa wilayah Kukar.

Ia menilai persoalan Karhutla juga tidak terlepas dari perilaku sebagian masyarakat yang masih melakukan pembakaran lahan, khususnya di wilayah hulu, saat musim kemarau menjelang datangnya musim hujan.

“Masih ada spot-spot api karena ini juga berkaitan dengan perilaku dan budaya masyarakat setempat. Terutama di wilayah hulu, masih ada masyarakat yang membakar ladang pada saat musim kering menjelang musim hujan,” ungkapnya.

Karena itu, BPBD Kukar meminta dukungan media untuk bersama-sama mengampanyekan pembukaan lahan tanpa melakukan pembakaran.

“Kami mohon bantuan media untuk bersama-sama mengampanyekan kepada masyarakat agar membuka lahan tanpa membakar,” pungkasnya.

Sementara itu, Camat Muara Badak Nurhaeda mengatakan penanganan Karhutla di wilayahnya terus diupayakan secara maksimal dengan melibatkan seluruh unsur terkait.

Menurutnya, sejumlah titik api yang muncul di Kecamatan Muara Badak terus dilakukan pemadaman oleh tim gabungan yang terdiri dari pemerintah kecamatan, relawan, perusahaan, pemerintah desa hingga unsur kesehatan.

“Untuk penanganan Karhutla di Muara Badak, kami upayakan bisa maksimal. Dari beberapa titik api, kami lakukan pemadaman,” ujarnya.

Nurhaeda mengatakan keselamatan dan kesehatan para petugas serta relawan menjadi perhatian serius selama proses penanganan Karhutla berlangsung.

Pihak kecamatan telah berkoordinasi dengan Puskesmas Badak Baru dan Puskesmas Muara Badak Ulu untuk melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap relawan, termasuk mendatangi sekretariat masing-masing tim.

“Kami selalu mengingatkan kepada teman-teman relawan, ketika melaksanakan tugas yang sangat mulia ini, tolong diperhatikan keselamatan dan kesehatannya,” katanya.

Selain itu, relawan juga diberikan kesempatan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan apabila mengalami keluhan selama bertugas di lapangan.

Terkait operasi water bombing, Nurhaeda membenarkan bahwa pemadaman melalui udara telah dilakukan di Desa Saliki.

Operasi tersebut sempat mengalami penundaan dari jadwal sebelumnya, namun akhirnya mulai dilaksanakan pada hari  Kamis ini.

“Alhamdulillah hari ini sudah dilakukan. Kalau saya monitor, ini sudah yang kedua kali. Tadi pagi sudah dilakukan dan kemudian dilanjutkan lagi yang kedua kali di Desa Saliki,” jelasnya.

Untuk kondisi kualitas udara, Nurhaeda mengatakan hingga saat ini situasi di Kecamatan Muara Badak masih dinilai dalam kondisi normal.

Meski terdapat warga yang mengalami gejala Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), berdasarkan penjelasan tenaga kesehatan dari dua puskesmas, kondisi tersebut tidak secara langsung dipengaruhi oleh asap akibat Karhutla.

“Memang ada indikasi warga yang mengalami ISPA, tetapi berdasarkan keterangan dari puskesmas, itu bukan dipengaruhi faktor asap atau kondisi alam saat ini. Lebih kepada kondisi imun tubuh warga yang sedang menurun,” ungkapnya.

Namun demikian, masyarakat dan khususnya para relawan tetap diimbau menggunakan masker saat beraktivitas di lokasi yang berpotensi terdampak asap.

Masker tersebut berasal dari berbagai bantuan dan partisipasi, termasuk dari puskesmas, klinik hingga sejumlah perusahaan di Kecamatan Muara Badak.

Sementara mengenai luasan lahan yang terbakar di Muara Badak, Nurhaeda menyebut data tersebut masih terus berubah mengikuti perkembangan penanganan di lapangan.

Menurut informasi terakhir yang diterimanya, luasan lahan terdampak telah mencapai 200 hektare lebih, meningkat dibandingkan data awal yang tercatat sekitar 107,5 hektare.

“Data ini sifatnya tentatif dan berjalan cepat karena kondisi di lapangan. Satu titik api terkadang bisa berulang kali muncul dan dilakukan pemadaman,” tuturnya.

Ia memperkirakan peningkatan luasan tersebut terjadi dalam rentang waktu kurang lebih satu bulan. Data luasan terakhir juga sempat disampaikan saat pelaksanaan Salat Istisqa di Kecamatan Muara Badak pada 2 September 2026. (*van)

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *