Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
EKONOMI DAN BISNIS

BUMDes Muara Muntai Ilir Kembangkan Ayam Petelur, Produksi 250 Telur per Hari Langsung Ludes

214
×

BUMDes Muara Muntai Ilir Kembangkan Ayam Petelur, Produksi 250 Telur per Hari Langsung Ludes

Share this article
Usaha Ayam Petelur Bumdes Mitra Sejahtera Desa Muara Muntai Ilir (Dok. Pemdes Muara Muntai Ilir)
Usaha Ayam Petelur Bumdes Mitra Sejahtera Desa Muara Muntai Ilir (Dok. Pemdes Muara Muntai Ilir)
Example 468x60

KUKAR: Usaha ayam petelur yang dikembangkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Mitra Sejahtera, Desa Muara Muntai Ilir, Kecamatan Muara Muntai, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), mulai menunjukkan prospek ekonomi yang menjanjikan.

Meski baru dikembangkan dalam skala terbatas, produksi telur dari usaha tersebut sudah mampu memenuhi kebutuhan masyarakat setempat. Bahkan, sekitar 250 butir telur yang dihasilkan setiap hari disebut langsung habis terjual dan belum mampu memenuhi seluruh permintaan.

Kepala Desa Muara Muntai Ilir, Arifadin Nur, mengatakan pengembangan usaha ayam petelur merupakan bagian dari revitalisasi BUMDes yang mulai dilakukan sejak 2024. Desa sebelumnya memiliki sejumlah unit usaha, namun sebagian belum dilanjutkan karena masih terkendala kelengkapan mekanisme teknis.

apam petelur2

“Untuk ketahanan pangan ini kami mencoba ayam petelur. Memang masih sedikit, tetapi Alhamdulillah sudah bisa memenuhi kebutuhan lokal untuk telur,” ujar Arifadin Kamis (10/9/2026).

Pada tahap awal, BUMDes memelihara sekitar 300 ekor ayam petelur. Secara bertahap, jumlah tersebut akan ditambah. Desa menargetkan populasi ayam petelur dapat berkembang hingga 2.000 bahkan 6.000 ekor.

Saat ini, produksi telur mencapai sekitar 250 butir per hari. Jumlah tersebut menurut Arifadin hampir selalu habis dalam waktu kurang dari dua hari.

“Produksi telur sekitar 250-an setiap hari. Itu habis, tidak sampai dua hari sudah habis. Bahkan banyak yang antre,” katanya.

Tingginya permintaan membuat pemerintah desa melihat peluang pengembangan usaha tersebut secara lebih besar. Terlebih, kebutuhan telur bersifat rutin karena menjadi salah satu bahan pangan yang dikonsumsi masyarakat setiap hari.

Tak hanya mengandalkan unit usaha yang dikelola di satu lokasi, Pemdes Muara Muntai Ilir juga menyiapkan pola kemitraan dengan masyarakat. Rencananya, setiap rumah tangga akan mendapatkan sekitar 20 hingga 24 ekor ayam petelur untuk dipelihara secara mandiri.

Dalam skema tersebut, pembiayaan akan dilakukan bersama pemerintah desa dan BUMDes. BUMDes nantinya membantu kebutuhan seperti pakan, pengelolaan ayam hingga masa produksi, sekaligus mengambil telur dari rumah-rumah warga untuk dipasarkan.

“Jadi masyarakat ke depannya tinggal memelihara dan menyetor telur. Yang mengambil dan memasarkannya juga orang BUMDes. Masyarakat tidak perlu repot menjual,” jelas Arifadin.

Sistem pemasaran juga akan dibuat lebih fleksibel. Selain penjualan langsung, telur dapat dipasarkan secara daring atau melalui pemesanan langsung dari rumah.

Harga telur disesuaikan dengan bentuk penjualan. Ada yang dijual berdasarkan kilogram, kemasan mika, maupun per piring. Untuk telur berdasarkan berat, harga yang dicantumkan BUMDes sekitar Rp35 ribu per kilogram, dengan harga dapat menyesuaikan ukuran telur dan bentuk kemasan.

Pengembangan kemitraan dengan masyarakat ini muncul setelah sejumlah kelompok masyarakat mengusulkan bantuan ayam petelur. Saat ini, sedikitnya tujuh hingga delapan kelompok telah menyampaikan usulan, yang jika dihitung dapat melibatkan sekitar 70 hingga 80 warga.

Keterbatasan anggaran desa menjadi salah satu alasan BUMDes dilibatkan dalam pembiayaan. Dengan skema tersebut, fasilitas seperti kandang baterai dapat dimanfaatkan masyarakat melalui mekanisme pinjam pakai.

“Karena anggaran desa terbatas, kami membuat sistem pembiayaan bersama BUMDes. BUMDes sudah berjalan, sehingga fasilitas seperti kandang baterai bisa dipinjamkan kepada masyarakat,” katanya.

Untuk tahap berikutnya, pola kemitraan ditargetkan tidak lagi terpusat dalam satu lokasi. Mulai 2027, ayam petelur direncanakan dibagikan kepada rumah tangga warga.

Setiap rumah akan memperoleh sekitar 20 hingga 24 ekor ayam yang telah memasuki usia produktif. Dengan begitu, masyarakat tidak membutuhkan waktu terlalu lama untuk mendapatkan hasil dari ternak tersebut.

Arifadin mengatakan pola tersebut dirancang agar masyarakat tidak terbebani. Setelah ayam memasuki masa afkir, BUMDes akan kembali mengambil ayam tersebut dan menggantinya dengan ayam baru sehingga usaha dapat berjalan secara berkelanjutan.

“Kalau sudah afkir, ayamnya nanti dibeli BUMDes dan diganti dengan ayam baru. Jadi berkelanjutan. Masyarakat tinggal memelihara, sementara telur dan ayam afkir ditangani BUMDes,” ujarnya.

Pengembangan usaha ayam petelur tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus menciptakan sumber pendapatan baru bagi masyarakat desa.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kukar, Ananias, menyambut baik usaha yang dikembangkan BUMDes Mitra Sejahtera tersebut.

Menurutnya, usaha ayam petelur tidak hanya mendukung program ketahanan pangan di Kukar, tetapi juga menjadi bentuk pemberdayaan ekonomi masyarakat di tingkat desa.

“Dari segi ekonomi sangat menjanjikan karena telur merupakan kebutuhan masyarakat setiap hari,” kata Ananias.

Ia berharap usaha yang dikembangkan BUMDes tersebut terus diperkuat sehingga produksinya mampu memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar.

Dengan meningkatnya produksi dan keterlibatan masyarakat melalui pola kemitraan, usaha ayam petelur di Muara Muntai Ilir diharapkan tidak sekadar menjadi program ketahanan pangan, tetapi berkembang menjadi sumber penghasilan berkelanjutan bagi warga. (and)

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *