KUKAR: Musim kemarau yang melanda Kecamatan Muara Wis, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), menyebabkan debit air di sejumlah sungai mengalami penyusutan. Kondisi ini berdampak langsung terhadap aktivitas masyarakat, khususnya para nelayan yang menggantungkan mata pencaharian dari perairan Danau Melintang.
Beberapa aliran sungai yang menghubungkan permukiman warga dengan Danau Melintang kini mengalami pendangkalan. Akibatnya, perahu nelayan kesulitan melintas sehingga aktivitas mencari ikan menjadi tidak maksimal.

Camat Muara Wis, Fadhli Annur, menjelaskan bahwa surutnya air tidak terjadi pada Danau Melintang secara keseluruhan, melainkan di aliran sungai dan kawasan sekitar permukiman warga.
“Yang mengalami penyusutan bukan danaunya, tetapi aliran sungai di sekitar permukiman masyarakat, seperti di belakang rumah-rumah warga. Sementara Danau Melintang masih bisa dilalui perahu dan masyarakat masih bisa mencari ikan di sana,” jelasnya Selasa (28/7/2026).
Meski demikian, Fadhli mengakui kondisi tersebut tetap memberikan dampak besar terhadap perekonomian masyarakat. Pasalnya, sebagian besar warga Desa Melintang berprofesi sebagai nelayan.
“Mayoritas mata pencaharian masyarakat adalah nelayan. Selain itu, banyak warga yang memiliki keramba untuk budidaya ikan. Saat air surut seperti sekarang, hasil tangkapan ikan ikut menurun. Memang masih ada yang mendapatkan ikan, tetapi jumlahnya tidak sebanyak biasanya,” katanya.
Ia menambahkan, musim kemarau tahun ini menyebabkan penurunan debit air yang cukup drastis. Selain menyulitkan mobilitas perahu, kondisi tersebut juga memengaruhi habitat ikan sehingga hasil tangkapan nelayan terus berkurang.
“Sebagian warga memang ada yang beternak kerbau atau berprofesi sebagai aparatur sipil negara, tetapi mayoritas tetap menggantungkan penghasilan dari sektor perikanan. Karena itu, surutnya air sangat berpengaruh terhadap kehidupan mereka,” jelasnya.
Sementara itu, Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kukar, Aspianir Sandi, mengatakan musim kemarau tidak hanya menyebabkan penurunan debit air sungai, tetapi juga meningkatkan potensi bencana lainnya, seperti kekeringan dan kebakaran hutan maupun lahan (karhutla).
Ia mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu bencana, terutama membuka lahan dengan cara membakar.
“Kami berharap masyarakat menyikapi kondisi musim kemarau ini dengan bijak. Tetap tenang dalam beraktivitas dan hindari tindakan yang dapat memicu kebakaran hutan maupun lahan, seperti membakar lahan,” tegasnya.
Pemerintah daerah pun terus memantau perkembangan kondisi cuaca dan debit air di wilayah Muara Wis guna mengantisipasi dampak kemarau yang diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan. (and)

















