BALIKPAPAN: Sebelumnya Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) menjadi langganan teratas di fasilitas kesehatan Balikpapan, kini dominasi itu mulai digeser oleh penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, Alwiati, mengungkapkan dalam beberapa waktu terakhir terjadi pergeseran tren kasus di tengah masyarakat. ISPA memang masih ditemukan, terutama pada kelompok yang sensitif terhadap suhu dingin. Namun, peningkatan signifikan justru terlihat pada kasus tekanan darah tinggi dan gangguan gula darah.
“Hipertensi dan diabetes kini masuk kategori tertinggi. Meskipun kasus ISPA masih ada dan sempat mendominasi sebelumnya, tapi trennya berubah,” ujarnya, pada hari Minggu, 22 Februari 2026.
Perubahan ini disebut tak lepas dari pola hidup masyarakat yang kian praktis namun minim kontrol. Konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak, ditambah kebiasaan makan berlebihan setelah berpuasa, menjadi pemicu utama lonjakan kasus.
Bagi penderita diabetes, pola makan yang tak terkendali dapat memperburuk kadar gula darah. Begitu pula konsumsi makanan instan dan kurangnya aktivitas fisik yang mempercepat munculnya penyakit kronis.
Di sisi lain, ISPA tetap mengintai kelompok rentan. Individu dengan alergi dingin, misalnya, bisa mengalami reaksi tubuh saat mengonsumsi minuman es, sehingga keluhan pernapasan lebih mudah muncul.
Lonjakan penyakit tidak menular menjadi tantangan baru bagi layanan kesehatan. Berbeda dengan penyakit infeksi yang umumnya bersifat akut, hipertensi dan diabetes membutuhkan pengelolaan jangka panjang, kontrol rutin, serta kedisiplinan pasien.
Tanpa perubahan perilaku, tren ini dikhawatirkan akan terus meningkat dan membebani sistem kesehatan daerah.
Pemerintah kota melalui Dinas Kesehatan terus menggencarkan edukasi pencegahan penyakit tidak menular. Program yang dijalankan meliputi kampanye pola makan sehat, pemeriksaan tekanan darah gratis di fasilitas kesehatan, serta penyuluhan pengendalian gula darah.
Alwiati menegaskan, kunci utama menekan angka kasus ada pada kesadaran masyarakat. Langkah sederhana seperti membatasi konsumsi gula, mengatur porsi makan, memperbanyak sayur dan buah, serta rutin memeriksa kesehatan dinilai efektif mencegah komplikasi.
“Jika masyarakat disiplin menjaga pola hidup sehat, angka penyakit bisa ditekan. Lebih baik mencegah daripada mengobati,” katanya.
Pergeseran tren ini menjadi pengingat bahwa ancaman kesehatan tak lagi hanya datang dari infeksi musiman, tetapi juga dari pilihan gaya hidup sehari-hari.(las)

















