Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
KUTAI KARTANEGARA

350 Penari Bersiap Suguhkan Tari Massal Spektakuler di Erau 2026

207
×

350 Penari Bersiap Suguhkan Tari Massal Spektakuler di Erau 2026

Share this article
Suasana Latihan Tari Massal di Stadion Rondong Demang. (Irvan/dutakaltimnews.com)
Suasana Latihan Tari Massal di Stadion Rondong Demang. (Irvan/dutakaltimnews.com)
Example 468x60

KUKAR: Persiapan penampilan tari massal untuk memeriahkan Erau 2026 mulai dimatangkan. Sebanyak 350 penari kini menjalani latihan intensif untuk menampilkan pertunjukan yang mengangkat kekayaan budaya Kutai Kartanegara (Kukar).

Erau Adat Kutai 2026 dijadwalkan digelar pada 20 September 2026 mendatang, menghadirkan rangkaian perayaan adat dan budaya yang menjadi salah satu agenda penting dan paling di tunggu bagi masyarakat Kukar.

Pimpinan Produksi, Wisra Budiarto mengatakan, latihan telah memasuki hari ke 16. Progres latihan sejauh ini dinilai cukup menggembirakan dan akan semakin lengkap dengan bergabungnya sejumlah etnis pada Sabtu (5/9/2026).

“Alhamdulillah, kita hari ini sudah hari ke 16 di lapangan ini untuk latihan. Kalau progres, insyaallah sudah cukup menggembirakan,” ujarnya, Kamis (3/8/2026).

Ia menyebut, para penari nantinya akan diperkuat dengan kehadiran sejumlah etnis, di antaranya Pahau, Kenyah, Benuaq, dan Tunjung.

Dengan bergabungnya seluruh penari, jumlah yang terlibat dalam persiapan mencapai sekitar 400 orang, terdiri dari 350 penari dan sekitar 50 orang tim produksi.

Konsep pertunjukan tahun ini mengangkat tajuk “Penjaga Tahta di Tepian Mahakam”. Konsep tersebut membawa pesan bahwa menjaga alam bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, kepala daerah maupun kesultanan, tetapi merupakan tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat.

“Bertanggung jawab memelihara itu bukan saja kepada pemerintah, bukan kepada kepala daerah, bukan kepada sultan, tapi seluruh lapisan masyarakat ini akan terlibat untuk memelihara alam kita,” jelasnya.

Wisra mengungkapkan, secara ideal jumlah penari yang diinginkan mencapai 500 orang.

Menurutnya, jumlah tersebut tetap dinilai mampu menghasilkan pertunjukan yang maksimal.

“Kalau idealnya itu kami ingin 500. Kalau 500 itu akan tumpah kita kuasai lapangan ini, sehingga etnis-etnis tertentu juga akan kita tambah. Tapi dengan ada keterbatasan ini kita juga membatasi hal itu, tapi tidak mengurangi produksi kegiatan ini dengan 350,” katanya.

Selama proses latihan, Wisra menyebut tidak ada kendala. Namun, kondisi kemarau dan kabut asap menjadi perhatian karena membuat lapangan tempat latihan kering dan berdebu.

Untuk menjaga kesehatan para penari, pihaknya mendapat bantuan 3.200 masker dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

“Kemarau ini lalu ada kabut asap, lapangan ini kering. Terlepas dari asap itu, debunya luar biasa. Alhamdulillah kami juga sudah dapat bantuan masker 3.200 dari BPBD,” ungkapnya.

Terkait keterlibatan Komunitas Seni Budaya Seraong Kalimantan Timur dalam Erau, Wisra mengatakan, tahun ini menjadi kesempatan pertama bagi komunitas tersebut untuk dipercaya menggarap produksi pertunjukan Erau.

Namun, pengalaman Wisra dalam kegiatan budaya bukanlah hal baru. Ia pernah menjadi Ketua Lembaga Pembinaan Kebudayaan Kutai (LPKK) dan terlibat dalam pengemasan kegiatan Erau hingga 2003.

Selain itu, ia juga pernah terlibat dalam sejumlah produksi kebudayaan di Samarinda hingga kegiatan budaya di Istana Negara pada 2015.

Untuk Erau kali ini, ia menargetkan pertunjukan tari massal tersebut dapat berjalan sukses dan memberikan penampilan yang berbeda.

“Target kita harus sukses, harus memukau. Dan kita mau kembali Erau yang sebenarnya,” tegasnya.

Menariknya, dalam produksi kali ini pihaknya juga memberikan ruang lebih besar kepada putra daerah untuk terlibat dalam proses kreatif.

Jika sebelumnya ia kerap melibatkan koreografer maupun komposer dari Jakarta dan Jawa, kali ini sejumlah putra daerah dipercaya untuk mengemas pertunjukan.

“Tapi untuk kali ini saya akan menggunakan putra daerah. Kebetulan putra daerah ini ada yang S1, ada yang S2. Maka kita coba putra daerah untuk mengemas kegiatan ini,” ujarnya.

Menurutnya, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong generasi muda agar mampu meneruskan pengembangan kebudayaan daerah.

“Harapan generasi penerus ini akan meneruskan tugas-tugas kita, karena kita ini sudah usia emas, maka generasi muda ini yang kita dorong,” katanya.

Sementara itu, salah satu masyarakat yang menyaksikan latihan, Tifanny mengaku senang melihat persiapan para penari yang sudah berjalan sejauh ini.

Ia berharap seluruh rangkaian persiapan hingga pelaksanaan pertunjukan nantinya dapat berjalan lancar dan memberikan penampilan yang menarik bagi masyarakat.

“Semoga nanti saat tampil bisa berjalan lancar dan pertunjukannya bagus, sehingga masyarakat juga semakin tertarik untuk datang menyaksikan Erau. Karena ini bagian dari identitas daerah kita,” pungkasnya. (*van)

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *