KUKAR : Pembangunan jembatan penghubung di Kecamatan Sebulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), saat ini masih dalam tahap menunggu persetujuan dari Komite Keselamatan Jembatan dan Terowongan Jalan (KKJTJ) pusat serta perizinan dari Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP). Persetujuan ini diperlukan guna mempermudah proses pemasangan tiang pancang di tengah alur sungai.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kukar, Wiyono, menjelaskan bahwa secara umum tidak ada kendala besar dalam pelaksanaan proyek ini. Namun, tahapan pekerjaan di titik sungai memang membutuhkan koordinasi dan persetujuan dari lembaga pusat.

“Untuk area yang berada tepat di atas sungai, kami masih menunggu persetujuan dari KKJTJ pusat. Selain itu, perizinan dari KSOP juga sedang kami proses, terutama menyangkut aspek keselamatan arus sungai saat proses penancangan dan pembangunan fondasi,” jelas Wiyono, Senin (2/6/2025).
Ia menambahkan bahwa untuk saat ini, pekerjaan difokuskan pada pembangunan jalan pendekat dari sisi darat.
“Kami berharap pada tahun 2026 mendatang, bentang tengah jembatan sudah bisa mulai dikerjakan,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum Kukar, Linda Juniarti, menambahkan, mengenai tahapan proyek Jembatan Sebulu tahap kedua. Ia menyampaikan bahwa proses tender telah dilakukan dua kali sebelumnya, namun mengalami kegagalan.
“Tender pertama digelar sebelum dilakukan efisiensi anggaran, namun gagal. Lalu tender kedua dilaksanakan sekitar satu bulan lalu dengan nilai efisiensi sebesar Rp138 miliar, tapi hasilnya tetap gagal,” ujar Linda.
Saat ini, lanjutnya, tender ketiga tengah berlangsung dan diharapkan tidak gagal agar tahapan kedua pembangunan dapat segera dimulai. Bila proses tender ini berhasil diselesaikan minggu ini, maka penandatanganan kontrak diperkirakan bisa dilakukan pada akhir Juni atau paling lambat awal Juli.
Anggaran Rp138 miliar tersebut difokuskan khusus untuk pekerjaan fisik. Pengawasan proyek telah dilakukan sebelumnya dan telah selesai masa kontraknya. Fokus pekerjaan fisik meliputi pembangunan jalan pendekat dari sisi Desa Sebulu Modern, termasuk pemasangan girder, meskipun belum sepenuhnya rampung.
Linda juga menyebut bahwa sebelumnya pihaknya mengusulkan total anggaran sebesar Rp380 miliar untuk tahun ini agar pekerjaan pendekat bisa dituntaskan seluruhnya. Dengan harapan, tahun berikutnya pembangunan bentang tengah dapat langsung dikerjakan. Namun demikian, proses pembangunan bentang tengah terkendala karena izin dari KSOP dan Balai Wilayah Sungai belum sepenuhnya selesai.
“Karena proyek ini menyentuh area sungai, tentu harus berkoordinasi dengan kementerian terkait, dan itu biasanya butuh waktu yang tidak sebentar,” terang Linda.
Ia menegaskan bahwa kehati-hatian sangat diperlukan, mengingat pengalaman buruk pada insiden jembatan Mahakam yang ditabrak kapal dan Jembatan Martadipura yang mengalami kerusakan akibat gundukan batu bara.
“Kami sangat hati-hati agar hal-hal seperti itu tidak terjadi lagi. Mudah-mudahan prosesnya berjalan lancar. Yang terpenting saat ini adalah dukungan dan doa dari semua pihak, agar rencana ini bisa berjalan sesuai harapan, meskipun realisasi kadang tidak selalu sejalan dengan prediksi,” tutupnya. (Adv/dk)

















