Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
HeadlineKUTAI KARTANEGARA

Menjamu Benua, Ritual Kesultanan Kutai untuk Menyambut dan Menjaga Jalannya Erau 2026

430
×

Menjamu Benua, Ritual Kesultanan Kutai untuk Menyambut dan Menjaga Jalannya Erau 2026

Share this article
Prosesi Menjamu Benua. (Irvan/dutakaltimnews.com)
Prosesi Menjamu Benua. (Irvan/dutakaltimnews.com)
Example 468x60

KUKAR: Jelang pelaksanaan Erau Adat Kutai 2026, Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura kembali menjalankan rangkaian ritual adat. Salah satunya adalah Menjamu Benua yang digelar pada Kamis (17/9/2026) di tiga wilayah di Tenggarong.

Ritual tersebut dilaksanakan di Tanah Habang Mangkurawang yang dimaknai sebagai Kepala Benua, depan Museum Mulawarman sebagai Tengah Benua, serta kawasan sebelah hilir Jembatan Kutai Kartanegara sebagai Buntut Benua.

Pelaku ritual Belian Namang, Sarpin, menjelaskan Menjamu Benua merupakan bagian dari rangkaian persiapan sebelum memasuki tahapan utama Erau.

Menurut Sarpin, rangkaian Erau diawali dengan Titi Bende. Prosesi tersebut dilakukan untuk menyampaikan kabar bahwa rangkaian Erau akan dilaksanakan, baik kepada masyarakat maupun pihak yang dipercaya berada dalam dimensi lain.

“Titi Bende itu tujuannya adalah untuk memberi kabar semua orang-orang yang ada di kota ini, kemudian juga baik yang kelihatan maupun tidak kelihatan,” jelasnya.

Setelah Titi Bende, rangkaian dilanjutkan dengan Beluluh Sultan. Prosesi ini menjadi tahapan penyucian Sultan sebelum menjalani rangkaian ritual berikutnya.

“Tujuannya sebelum diacarakan Sultan itu harus bersih dari segala sesuatu, hal-hal mengenai yang tidak baik, maupun hal-hal duniawi. Dia harus menyucikan diri atau mengosongkan diri untuk diritualkan,” ungkapnya.

Setelah pemberitahuan dilakukan melalui Titi Bende dan penyucian Sultan melalui Beluluh, kemudian dilaksanakan Menjamu Benua. Sarpin menyebut prosesi ini sebagai bentuk jamuan sekaligus undangan kepada pihak-pihak yang sebelumnya telah diberi kabar mengenai pelaksanaan Erau.

“Yang kemarin kita kasih kabar, hari ini kita jamu, kita undang, kita panggil, kita undangi semua yang kita beri kabar kemarin bahwa kita akan melaksanakan yang disebut dengan Tepung Tawar atau Bepelas Sultan,” ujarnya.

Dalam ritual tersebut, pihak yang diundang diberikan jamuan yang dalam bahasa ritual disebut Ambak Beribudi. Pemberian tersebut dimaknai sebagai bentuk penghormatan sekaligus tanda bahwa mereka diminta ikut menjaga keamanan dan ketertiban selama rangkaian kegiatan Kesultanan berlangsung.

“Ambak Beribudi itu artinya diberi jamuan-jamuan, semacam cendera mata atau segala macam, supaya mereka itu sebagai tanda bagi mereka bahwa mereka itu ditugasi untuk menjaga kita,” katanya.

Usai Menjamu Benua, rangkaian ritual berlanjut dengan Merangin. Dalam prosesi ini, para Belian menjalankan perjalanan ritual sebagai bagian dari tata cara adat untuk kembali menyampaikan maksud pelaksanaan Bepelas Sultan atau Bapuja Bantan Tepung Tawar Kampung Ratu Baris Aji.

Sarpin menjelaskan, Merangin memiliki sejumlah simbol perjalanan. Dalam perjalanan melalui air, para Belian menggunakan simbol kura-kura, sementara perjalanan di udara menggunakan simbol burung unggang.

“Memang raga kita masih kelihatan, tetapi roh kita itu sebenarnya berjalan. Makanya kita mengitari yang ada itu sebagai perjalanan,” ujarnya.

Setelah Merangin, rangkaian dilanjutkan dengan Pengatur Dahar dan mendirikan Tiang Ayu. Pengatur Dahar dimaknai sebagai pemberian sajian kepada roh leluhur serta penjaga keraton.

Sementara Ayu menjadi simbol roh seorang pemimpin atau Sultan yang kemudian dijaga selama rangkaian ritual berlangsung.

“Makanya roh itulah yang dijaga setiap malam oleh penjaga Ayu,” pungkasnya. (*van)

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *