Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
KUTAI KARTANEGARA

Bahasa “Dewa” di Kedang Ipil Hanya Dipahami Orang Tertentu, Penuturnya Tinggal Belasan

273
×

Bahasa “Dewa” di Kedang Ipil Hanya Dipahami Orang Tertentu, Penuturnya Tinggal Belasan

Share this article
Penutur Bahasa Belian, Sarpin. (Irvan/dutakaltimnews.com)
Penutur Bahasa Belian, Sarpin. (Irvan/dutakaltimnews.com)
Example 468x60

KUKAR: Di tengah kehidupan masyarakat Desa Kedang Ipil, Kecamatan Kota Bangun Darat, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), tersimpan sebuah bahasa yang tidak bisa dipahami oleh sembarang orang. Bahasa tersebut hanya terdengar dalam konteks tertentu, salah satunya ketika masyarakat menjalankan ritual Belian.

Bagi masyarakat Kutai Adat Lawas, Bahasa Belian bukan sekadar alat komunikasi. Setiap pengucapannya memiliki makna tersendiri dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan ritual adat yang masih dipertahankan hingga kini.

Penutur Bahasa Belian, Sarpin, mengatakan bahasa tersebut juga dikenal dengan sebutan bahasa Dewa atau Bahasa Miyam. Keberadaannya diketahui masih digunakan dalam ritual masyarakat Kutai Adat Lawas.

“ Memang sudah ada penelitiannya, kalau dalam penelitian yang diangkatkan oleh Universitas Indonesia (UI) itu adalah bahasa Dewa. Di dunia ini dulu yang ada itu di Meksiko, tapi pada 2016, kalau tidak salah, sudah punah yang di Meksiko,” ujarnya Kamis (17/9/2026).

Menurutnya, penelitian yang dilakukan UI kemudian menemukan bahwa bahasa tersebut masih hidup dan digunakan dalam ritual masyarakat di Kedang Ipil.

“Setelah diteliti oleh UI, bagian budaya, ternyata bahasa itu masih ada di tempat kami, berlaku ritual di tempat kami. Satu-satunya di dunia yang diakui oleh UNESCO,” jelasnya.

Sarpin menjelaskan, Bahasa Belian memiliki makna yang sangat bergantung pada cara seseorang mengucapkannya.

“Makna artinya sendiri sebenarnya tergantung pengucapannya. Maknanya itu banyak. Seperti kita bicara juga pengucapannya, cuma tidak memakai bahasa kita, melainkan memakai bahasa itu tadi,” ungkapnya.

Di lingkungan masyarakat Kutai Adat Lawas sendiri, tidak semua orang mampu memahami Bahasa Belian.

“Kami sendiri di Kutai Adat Lawas tidak semua orang yang bisa mengerti, kecuali memang orang yang pelaku ritualnya, atau orang yang biasa mengikuti ritual dan juga pernah belajar itu,” katanya.

Menariknya, kemampuan menjadi pelaku ritual sekaligus memahami Bahasa Belian tidak ditentukan oleh garis keturunan.

“Belian ini sendiri, ritual ini sendiri tidak mengenal keturunan atau monarki dalam kerajaan. Tergantung sanggup apa tidak dia, mau atau tidak, atau dipelajari secara ini,” katanya.

Namun, di balik keberadaan Bahasa Belian yang masih bertahan dalam ritual adat, jumlah penuturnya kini semakin terbatas.

“Kalau penutur sendiri tinggal sedikit sekarang. Paling ada 10 lebih orang lagi,” ungkapnya.

Kondisi tersebut membuat regenerasi menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat adat. Sarpin mengatakan pihaknya telah mulai menyiapkan sejumlah program untuk menjaga keberlangsungan adat dan tradisi, termasuk menyusun hukum adat.

“Untuk ke depannya kita rencana, karena sudah diakui sebagai masyarakat hukum adat. Kemarin kita sudah mulai menyusun program, termasuk saya kemarin itu sudah menyusun draft hukum adat,” jelasnya.

Menurutnya, pelestarian Bahasa Belian tidak cukup hanya dengan mengajarkan bahasa kepada generasi muda.

“Karena harus ada persyaratan yang lain. Misalnya harus ada ruang hidup. Ruang hidup itu sendiri, mengapa harus ada ruang hidup, hutan dan segala macam. Karena di hutan itulah medium-medium ritual yang ada, yang tidak bisa tergantikan dengan yang lain,” tuturnya.

Ia menjelaskan, sejumlah medium yang digunakan dalam ritual memiliki nama tersendiri dalam Bahasa Belian.

“Medium itu tidak bisa tergantikan karena dalam penuturan bahasanya ada nama tersendiri medium itu. Sehingga kalau kita ganti dengan yang lain, ya tidak termasuk dalam penuturan ritual,” pungkasnya. (*van)

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *