Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
HeadlineKUTAI KARTANEGARA

Kenaikan Harga Pertamax Bebani Ojek Online di Tenggarong

438
×

Kenaikan Harga Pertamax Bebani Ojek Online di Tenggarong

Share this article
SPBU di Jalan Walter Monginsidi, Kelurahan Timbau, Kecamatan Tenggarong. (Irvan/dutakaltimnews.com)
SPBU di Jalan Walter Monginsidi, Kelurahan Timbau, Kecamatan Tenggarong. (Irvan/dutakaltimnews.com)
Example 468x60

KUKAR: Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax mulai dirasakan masyarakat, khususnya para pengemudi ojek online yang menggantungkan pendapatan dari aktivitas transportasi harian.

Berdasarkan pantauan di SPBU Jalan Walter Monginsidi, Kelurahan Timbau, Kecamatan Tenggarong, Rabu (10/6/2026), antrean kendaraan untuk pengisian BBM terpantau masih relatif normal dan tidak terlalu panjang. Untuk pengisian BBM subsidi jenis Pertalite bagi kendaraan roda dua, pengendara hanya diperbolehkan membeli maksimal Rp50 ribu per hari.

Kondisi tersebut menjadi perhatian setelah harga Pertamax mengalami kenaikan dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Sementara Pertamax Green 95 naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter. Kenaikan ini dinilai menambah beban biaya operasional bagi masyarakat.

Wakil Ketua Komunitas Ojek Online Tenggarong, Zaini Ali, mengaku cukup terkejut dengan kenaikan harga Pertamax yang terjadi dalam waktu singkat.

“Ya mungkin agak kaget juga, karena tidak ada pemberitahuan. Tiba-tiba naik menjadi Rp16 ribu lebih per liter, jadi cukup mengejutkan,” ujarnya.

Zaini mengatakan dalam aktivitas sehari-hari dirinya menggunakan Pertalite maupun Pertamax, tergantung ketersediaan BBM di SPBU. Namun saat ini ia lebih sering menggunakan Pertalite karena harganya lebih terjangkau.

Meski demikian, ketika stok Pertalite terbatas atau antrean terlalu panjang, para pengemudi terpaksa beralih menggunakan Pertamax agar tetap bisa bekerja dan melayani pelanggan.

“Kalau Pertalite tidak ada, ya mau tidak mau harus pakai Pertamax. Begitu juga kalau antreannya terlalu panjang karena itu membuang waktu kerja,” katanya.

Menurutnya, kenaikan harga Pertamax secara langsung meningkatkan biaya operasional para pengemudi ojek online. Di sisi lain, tarif layanan dari aplikator belum mengalami penyesuaian sehingga pendapatan pengemudi semakin tergerus.

“Jelas menambah biaya operasional. Sementara dari biaya aplikasi tidak ada penambahan, sedangkan harga bahan bakar naik,” ucapnya.

Terkait ketersediaan BBM, Zaini mengaku tidak mengalami kesulitan mendapatkan Pertalite. Namun, antrean panjang kerap menjadi kendala yang membuat pengemudi memilih membeli Pertamax meski harganya lebih mahal.

“Kalau mencari Pertalite sebenarnya tidak sulit, cuma kadang antreannya terlalu panjang. Karena antreannya panjang, akhirnya saya memilih menggunakan Pertamax,” jelasnya.

Ia berharap pemerintah dapat mempertimbangkan kembali kebijakan kenaikan harga BBM tersebut. Apabila harga tidak memungkinkan untuk diturunkan, ia berharap ada kebijakan lain yang dapat meringankan beban para pengemudi transportasi online.

“Kalau bisa tentu harapannya diturunkan lagi. Tapi kalau memang tidak bisa, mungkin ada kebijakan lain dari pemerintah atau aplikator, misalnya penyesuaian tarif pengantaran atau bantuan lain untuk pengemudi,” pungkasnya. (*van)

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *