Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
KUTAI KARTANEGARA

Kemarau Panjang, Warga Kota Bangun Diminta Waspada Abrasi dan Kebakaran Lahan

275
×

Kemarau Panjang, Warga Kota Bangun Diminta Waspada Abrasi dan Kebakaran Lahan

Share this article
Kondisi Bantaran Sungai di Kecamatan Kota Bangun (Istimewa)
Kondisi Bantaran Sungai di Kecamatan Kota Bangun (Istimewa)
Example 468x60

KUKAR: Kemarau mulai membawa sejumlah perubahan di Kecamatan Kota Bangun, Kutai Kartanegara (Kukar). Setelah sekitar dua pekan tanpa hujan, debit Sungai Mahakam terus menurun dan membuat kondisi di sekitar bantaran sungai perlu diwaspadai.

Camat Kota Bangun, Abdul Karim, mengatakan hujan terakhir turun sekitar dua pekan lalu. Sejak itu, wilayah Kota Bangun belum kembali mendapat hujan.

“Memang saat ini kurang lebih dua minggu tidak ada hujan. Dari terakhir hari Sabtu dua minggu yang lalu sampai saat ini tidak ada hujan sama sekali. Air Mahakam ini sangat jauh turunnya,” kata Abdul Karim, Sabtu (15/8/2026).

Menurut Abdul Karim, surutnya Sungai Mahakam mulai terlihat dampaknya di sejumlah titik. Beberapa kawasan bantaran sungai mengalami abrasi dan pergeseran tanah. Bahkan, terdapat bangunan warga yang mulai miring akibat tanah di sekitarnya turun.

“Karena surutnya air Mahakam, ada beberapa lokasi yang kena abrasi. Ada penurunan tanah dan pergeseran tanah di pinggiran Mahakam,” jelasnya.

Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah kecamatan karena perubahan tinggi muka air dapat memengaruhi kestabilan tanah di sepanjang bantaran sungai. Warga yang tinggal di kawasan tersebut pun diminta lebih berhati-hati.

Pihak kecamatan bersama Polsek, BPBD, dan pemerintah desa telah menyampaikan imbauan kepada masyarakat. Salah satu yang menjadi perhatian adalah warga yang rumahnya berada dekat dengan tepian Sungai Mahakam.

Selain abrasi, kemarau juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di kawasan rawa yang mulai mengering.

Abdul Karim mengatakan kebakaran di kawasan rawa tidak mudah ditangani karena lokasi titik api terkadang berada jauh dari akses utama.

“Untuk rawa memang ini yang perlu kami sangat waspadai. Kalau sudah ada yang terbakar, untuk pemadamannya kadang-kadang jauh, sehingga kami terus waspada,” ujarnya.

Ia menyebut sempat terjadi kebakaran di kawasan Kampung Muara Muntai. Namun, api berhasil ditangani sehingga tidak meluas.

Untuk mencegah kejadian serupa, warga yang membuka lahan diminta tidak menggunakan api. Sebab, kondisi lahan yang kering membuat api berpotensi cepat menjalar.

“Untuk warga yang membuka lahan kami juga memberikan imbauan untuk tidak membakar lahan karena itu sangat fatal apabila apinya merambat ke permukiman warga dan kebun-kebun warga lainnya,” tegasnya.

Di tengah kemarau, surutnya air juga memberikan pemandangan berbeda di sejumlah kawasan danau. Sebagian tepian danau yang biasanya terendam kini mulai terlihat dan menjadi daya tarik bagi warga.

Desa Pela menjadi salah satu kawasan yang ramai dikunjungi. Abdul Karim mengatakan kawasan tersebut tidak hanya menarik wisatawan lokal, tetapi juga sesekali didatangi wisatawan mancanegara.

“Kalau Pela ini memang bukan warga negara saja, tetapi dari mancanegara juga kadang ada yang ke Pela. Tidak setiap hari, tetapi sering ada yang ke sana,” katanya.

Namun, kondisi air yang terus menyusut tidak sepenuhnya menguntungkan. Aktivitas wisata di kawasan Tanjung Serai, Desa Kedang Murung, misalnya, ikut terganggu karena kondisi danau yang semakin dangkal.

Di sisi lain, warga juga mulai mempertimbangkan dampak kemarau terhadap aktivitas pertanian. Warga Kota Bangun, Rizal, mengatakan kondisi cuaca yang sulit diprediksi membuat masyarakat lebih berhati-hati memanfaatkan lahan danau yang mengering.

“Kalau dulu ketika danau surut, biasanya bisa dijadikan lahan pertanian dan ditanami padi. Tapi sekarang cuacanya tidak menentu. Kadang padi sudah mau panen, tiba-tiba datang banjir. Jadi warga agak ragu untuk kembali menanam,” ujarnya.

Menurut Rizal, kondisi danau yang mengering memang menarik perhatian warga untuk datang melihat, khususnya pada pagi dan sore hari. Namun, masyarakat tetap harus memperhitungkan risiko perubahan cuaca sebelum memanfaatkan lahan tersebut.

Abdul Karim berharap hujan segera turun untuk mengurangi dampak kemarau. Meski demikian, ia meminta masyarakat tidak mengabaikan potensi bencana yang bisa muncul akibat perubahan kondisi air.

“Dari BPBD memang perkiraannya mudah-mudahan dalam waktu dekat ada hujan. Namun, masyarakat tetap perlu waspada, khususnya yang rumahnya berada di bantaran Sungai Mahakam,” pungkasnya. (and)

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *