Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
KUTAI KARTANEGARA

Kemarau Panjang Ubah Wajah Danau Kota Bangun, Aktivitas Warga Ikut Terdampak

271
×

Kemarau Panjang Ubah Wajah Danau Kota Bangun, Aktivitas Warga Ikut Terdampak

Share this article
Objek Wisata Desa Pela, Kecamatan Kota Bangun (Dok. Alimin Ketua Pokdarwis Desa Pela)
Objek Wisata Desa Pela, Kecamatan Kota Bangun (Dok. Alimin Ketua Pokdarwis Desa Pela)
Example 468x60

KUKAR: Kemarau panjang mulai mengubah kondisi sejumlah kawasan perairan di Kecamatan Kota Bangun, Kutai Kartanegara (Kukar). Debit Sungai Mahakam dan air danau yang terus menyusut membuat sejumlah tepian perairan mengering.

Kondisi tersebut tak hanya berdampak terhadap aktivitas masyarakat, tetapi juga menghadirkan fenomena baru. Sejumlah kawasan danau yang biasanya dipenuhi air kini menjadi lokasi yang menarik perhatian warga untuk dikunjungi.

Camat Kota Bangun, Abdul Karim, mengatakan wilayahnya sudah sekitar dua pekan tidak diguyur hujan. Kondisi itu membuat air Mahakam mengalami penyusutan cukup signifikan.

Objek Wisata Desa Pela Saat Debit Air Surut

“Memang saat ini kurang lebih dua minggu tidak ada hujan. Air Mahakam ini sangat jauh turunnya, surutnya,” kata Abdul Karim Sabtu (15/8/2026).

Menurutnya, beberapa kawasan danau yang mengalami penyusutan mulai ramai didatangi masyarakat, terutama pada pagi dan sore hari. Fenomena tersebut bahkan menjadi semacam wisata dadakan bagi warga.

Salah satu kawasan yang cukup ramai adalah Wisata Desa Pela. Selain dikunjungi masyarakat lokal, kawasan tersebut juga sesekali menarik wisatawan dari luar daerah hingga mancanegara.

“Kalau Pela ini memang bukan warga negara saja, tetapi dari mancanegara juga kadang ada yang ke Pela. Tidak setiap hari, tetapi sering ada,” ujarnya.

Namun, menyusutnya air danau juga menimbulkan persoalan lain bagi masyarakat. Warga yang selama ini memanfaatkan lahan sekitar danau untuk bertani mulai menghadapi ketidakpastian musim tanam.

Dampak surutnya air juga dirasakan sektor wisata. Wisata Tanjung Sarai di Desa Kedang Murung, misalnya, mulai mengalami kendala karena kondisi danau yang semakin dangkal.

Abdul Karim menyebut aktivitas kapal wisata di kawasan tersebut untuk sementara tidak dapat berjalan optimal karena air danau terus menyusut.

“Di Tanjung Serai untuk kapal wisata sementara tidak bisa berjalan karena danau ini akan kering,” jelasnya.

Di tengah kondisi tersebut, pemerintah kecamatan juga meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran lahan. Kawasan rawa yang mengering dinilai menjadi salah satu titik yang perlu mendapat perhatian karena sulitnya proses pemadaman apabila api menjalar ke bagian tengah rawa.

Abdul Karim mengatakan pihak kecamatan bersama kepolisian, BPBD, dan pemerintah desa telah menyampaikan imbauan kepada masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran ketika membuka lahan.

“Untuk warga yang membuka lahan kami juga memberikan imbauan untuk tidak membakar lahan karena itu sangat fatal apabila apinya merambat ke permukiman warga dan kebun-kebun warga lainnya,” tegasnya.

Selain ancaman kebakaran, surutnya Sungai Mahakam juga memicu kekhawatiran terhadap abrasi dan pergeseran tanah di sejumlah bantaran sungai.

Ia meminta warga yang tinggal di sekitar bantaran Mahakam meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap kondisi bangunan dan tanah di sekitar permukiman.

“Biasanya kalau air naik, itu akan berpengaruh. Tanah di pinggir sungai bisa bergerak. Makanya masyarakat, khususnya yang rumahnya di bantaran Sungai Mahakam, perlu waspada,” jelasnya.

Warga Kota Bangun, Suryadi, mengatakan kondisi cuaca saat ini berbeda dibanding beberapa tahun sebelumnya. Menurutnya, warga kini lebih berhati-hati memanfaatkan lahan danau yang mengering untuk pertanian.

“Kalau dulu danau surut, warga bisa memanfaatkannya untuk lahan pertanian dan ditanami padi. Sekarang cuacanya tidak menentu. Kadang padi sudah mau panen, tiba-tiba datang banjir,” ungkapnya.

Situasi tersebut membuat sebagian petani memilih menunda penanaman karena khawatir tanaman rusak jika terjadi perubahan debit air secara tiba-tiba.

“Sekarang memang kelihatan kering, tapi kita tidak tahu hujan akan turun kapan. Kalau ditanami, risikonya juga besar,” pungkasnya. (and)

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *