KUKAR: Kemarau panjang mulai berdampak serius terhadap pasokan air bersih di Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).
Menurunnya debit air baku membuat Perumda Air Minum Tirta Mahakam harus mengurangi kapasitas produksi, sehingga distribusi air kepada pelanggan mulai mengalami kendala.
Camat Samboja, Damsik, mengatakan kondisi sumber air baku di wilayahnya semakin memprihatinkan akibat minimnya curah hujan dalam beberapa waktu terakhir. Salah satu lokasi yang terdampak adalah Sungai Merdeka, yang menjadi sumber air baku untuk pelayanan di Kecamatan Samboja dan Samboja Barat.
Menurutnya, upaya pengerukan yang dilakukan Perumda Air Minum belum mampu mengatasi persoalan tersebut karena volume air di sungai terus menyusut.
“Penyebab surutnya air baku ini karena kemarau yang berlangsung cukup lama. Kondisinya sudah berdampak terhadap pengelolaan air bersih dan distribusi kepada masyarakat,” ujar Damsik.
Ia menjelaskan, kondisi serupa juga terjadi pada sumber air lainnya. Instalasi pengambilan air di Kelurahan Kampung Lama bahkan telah dihentikan operasionalnya sejak beberapa bulan lalu karena air laut masuk hingga ke Sungai Hitam, sehingga sumber air tersebut tidak lagi layak diolah seperti biasanya.
Sementara itu, instalasi di kawasan Bukit Raya masih beroperasi meskipun volume air bakunya mulai berkurang
Damsik mengakui, masyarakat telah merasakan penurunan pasokan air bersih dalam beberapa pekan terakhir. Ia berharap hujan yang mulai turun dapat membantu meningkatkan ketersediaan air baku di wilayah tersebut.
“Alhamdulillah, tadi malam sudah turun hujan. Mudah-mudahan ada pengaruh terhadap ketersediaan air baku untuk kebutuhan air bersih masyarakat,” katanya.
Terpisah, Direktur Teknik Perumda Air Minum Tirta Mahakam Kukar, Abdul Latif, menjelaskan bahwa kapasitas produksi air di Cabang Samboja terpaksa diturunkan dari sekitar 90 liter per detik menjadi 50–52 liter per detik.
Artinya, kapasitas produksi berkurang sekitar 38–40 liter per detik. Kebijakan tersebut diambil karena debit sumber air baku di Sungai Merdeka mengalami penurunan, sementara sumber air di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Gunung Pasir tidak dapat dioperasikan akibat tingginya kadar garam.
“Untuk IPA Gunung Pasir, intrusi air laut menyebabkan kadar garam atau salinitas mencapai sekitar 10.000 miligram per liter. Akibatnya, instalasi yang biasanya dapat beroperasi dengan kapasitas sekitar 30 liter per detik itu harus dihentikan,” jelas Abdul Latif.
Ia menyebutkan, jumlah pelanggan Perumda Air Minum Cabang Samboja mencapai sekitar 4.809 sambungan. Wilayah yang berpotensi paling terdampak adalah kawasan di ujung jaringan distribusi dan daerah dengan elevasi lebih tinggi.
Wilayah tersebut meliputi Kelurahan Karya Merdeka, Bukit Merdeka, Sei Merdeka, Samboja Kuala, Teluk Pemedas, dan Sanipah.
Sebagai langkah penanganan sementara, Perumda Air Minum menyiapkan fasilitas keran air gratis di IPA Gunung Pasir dan IPA Sungai Merdeka. Pelanggan yang mengalami gangguan aliran air dapat memanfaatkan fasilitas tersebut sesuai lokasi pelayanan yang telah ditentukan.
Pelanggan di kawasan Karya Merdeka dan Bukit Merdeka diarahkan mengambil air di IPA Sungai Merdeka. Sementara pelanggan di Samboja Kuala dan Kampung Lama dapat memanfaatkan fasilitas di IPA Gunung Pasir.
Abdul Latif mengatakan, pengurangan kapasitas produksi merupakan langkah penyesuaian terhadap keterbatasan sumber air baku akibat kemarau panjang, fenomena El Niño, serta kondisi iklim yang memengaruhi ketersediaan air.
Perumda Air Minum Tirta Mahakam terus melakukan penyesuaian operasional untuk menjaga pelayanan kepada pelanggan di tengah keterbatasan sumber air baku. Masyarakat di wilayah terdampak diharapkan dapat memanfaatkan fasilitas air gratis yang disediakan selama distribusi belum kembali normal. (and)

















