Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
KUTAI KARTANEGARA

Kemarau Panjang, PDAM Kukar Waspadai Intrusi Air Laut

75
×

Kemarau Panjang, PDAM Kukar Waspadai Intrusi Air Laut

Share this article
Kondisi Air Sungai Mahakam (Dok. Andri/dutakaltimnews.com
Kondisi Air Sungai Mahakam (Dok. Andri/dutakaltimnews.com
Example 468x60

KUKAR: Kemarau panjang mulai memberi tekanan terhadap ketersediaan air baku di sejumlah wilayah Kutai Kartanegara (Kukar). Penurunan permukaan air Sungai Mahakam bahkan membuat Perumda Tirta Mahakam mewaspadai ancaman intrusi air laut yang dapat mengganggu produksi air bersih.

Direktur Utama Perumda Tirta Mahakam, Suparno mengatakan, kondisi kemarau berpengaruh terhadap kapasitas produksi karena beberapa titik intake mengalami penurunan permukaan air.

Meski demikian, hingga saat ini operasional Perumda Tirta Mahakam masih berjalan normal. Perusahaan belum berencana menghentikan operasional selama kondisi air di intake masih memungkinkan untuk diolah.

“Beberapa tempat memang sudah mengalami penurunan air permukaan. Tentunya ini akan mengurangi kapasitas air yang diproduksi. Tetapi untuk saat ini belum ada rencana mematikan operasional. Selama intake masih bisa dioperasikan, tetap kami operasikan,” ujar Suparno saat dikonfirmasi Senin (17/8/2026).

Menurutnya, ancaman yang lebih dikhawatirkan adalah masuknya air laut ke aliran Sungai Mahakam. Kondisi tersebut berpotensi berdampak terhadap wilayah Anggana dan Marangkayu.

Berdasarkan pemantauan pada Senin (17/8/2026) pagi, kadar air di salah satu titik telah mencapai sekitar 251 ppm. Jika terus meningkat hingga melewati ambang batas 300 ppm, Perumda Tirta Mahakam tidak dapat mengambil air baku tersebut untuk diproduksi menjadi air bersih.

“Kalau di atas ambang batas 300 ppm, kita tidak bisa operasikan. Karena airnya sudah tidak memenuhi syarat dan kita khawatir akan berdampak terhadap kesehatan masyarakat,” jelasnya.

Suparno berharap hujan segera turun, khususnya di wilayah hulu Sungai Mahakam. Curah hujan di kawasan tersebut dinilai penting untuk meningkatkan kembali debit air dan membantu menjaga kualitas air baku.

Di sisi lain, pasang surut air laut masih menjadi salah satu faktor yang membantu mempertahankan ketinggian permukaan air Mahakam. Namun, kondisi tersebut juga membawa konsekuensi berupa masuknya air laut ke sungai.

“Harapan kita hujan turun di wilayah hulu, sehingga berdampak terhadap aliran Mahakam. Itu yang sangat kita harapkan,” katanya.

Sementara itu, Camat Kembang Janggut, Suhartono mengatakan, dampak kemarau terhadap kebutuhan air masyarakat di wilayahnya sejauh ini belum terlalu dirasakan.

Dari 11 desa di Kecamatan Kembang Janggut, tujuh desa telah mendapatkan layanan air dari PDAM. Sedangkan empat desa lainnya belum teraliri jaringan PDAM, namun kebutuhan air masyarakat masih dapat terpenuhi.

“Untuk air tidak begitu dirasakan karena masih dalam keadaan terkendali. Dari 11 desa, tujuh desa sudah teraliri PDAM dan empat desa belum, tetapi kebutuhan air masih dapat terpenuhi,” kata Suhartono.

Ia menambahkan, aktivitas ekonomi masyarakat juga belum mengalami gangguan berarti akibat penurunan debit air. Mobilisasi perusahaan pertambangan batu bara masih berjalan, sementara kebutuhan bahan pokok masyarakat relatif tetap normal.

Dengan kondisi kemarau yang belum menunjukkan tanda berakhir, Suhartono berharap situasi tersebut tidak berlangsung terlalu lama, terutama agar ketersediaan air dan aktivitas masyarakat tetap terjaga. (and)

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *