KUKAR: Kondisi jalan penghubung antara Desa Bloro dan Desa Sebulu Moderen, Kecamatan Sebulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), kian memprihatinkan. Jalan tanah sepanjang lebih dari satu kilometer itu mengalami kerusakan parah dan berpotensi membahayakan keselamatan warga, terutama para pelajar SMAN 1 dan SMAN 2 Sebulu yang setiap hari melintas untuk menuntut ilmu.
Akses yang seharusnya menjadi nadi pergerakan masyarakat justru berubah menjadi jalur rawan risiko. Saat hujan turun, jalan menjadi licin dan berlumpur, sementara di musim kemarau debu tebal beterbangan hingga mengganggu jarak pandang pengendara. Kondisi tersebut telah berlangsung bertahun-tahun tanpa penanganan permanen.
Camat Sebulu, Edy Fachruddin, menyebutkan total kerusakan jalan mencapai sekitar 1,6 kilometer, dengan titik terparah sepanjang kurang lebih 700 meter. Menurutnya, selama ini penanganan yang dilakukan masih bersifat sementara dan belum berupa pengecoran permanen.
“Yang rusak parah itu sekitar 700 meter. Dulu mungkin pernah dilakukan pengerasan, tapi sifatnya hanya sementara,” ujarnya, Sabtu (10/1/2026).
Ia menambahkan, pemerintah kecamatan telah beberapa kali menggelar rapat bersama pemerintah desa, RT, BPD, serta warga setempat untuk membahas penanganan jalan tersebut. Bahkan sempat direncanakan pemanfaatan bantuan material batu dari pihak perusahaan, namun hingga kini belum ada kepastian.
“Setelah ditinjau Pak Bupati, kemungkinan akan menggunakan dana dari PU terlebih dahulu, dari APBD murni, supaya jalan ini bisa dilalui sementara,” jelasnya.
Edy menegaskan, kondisi jalan Bloro–Sebulu Moderen memiliki dampak luas karena menyangkut akses layanan dasar masyarakat. Di sektor kesehatan, Kecamatan Sebulu hanya memiliki dua puskesmas induk, masing-masing berada di Sebulu Ilir dan Desa Sumber Sari. Meski setiap desa telah memiliki Puskesmas Pembantu (Pustu), banyak layanan kesehatan tetap harus ditangani di puskesmas induk.
“Kalau kondisi jalan seperti ini, tentu sangat menyulitkan warga yang membutuhkan layanan kesehatan, terutama dalam kondisi darurat,” katanya.
Selain itu, keterbatasan sarana pendidikan di Desa Bloro juga membuat jalan tersebut semakin vital. Di desa tersebut, fasilitas pendidikan hanya tersedia hingga jenjang sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, yakni SD Negeri 04, SD Negeri 015, SD Negeri 016, serta SMP Negeri 4.
“Untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA, anak-anak kita harus bersekolah ke Desa Sebulu, karena di sana terdapat SMA Negeri 1 Sebulu dan SMA Negeri 2 Sebulu. Setiap hari mereka melintasi jalan ini,” ujarnya.
Kondisi jalan yang rusak juga berdampak langsung pada keselamatan warga. Edy mengungkapkan, pernah terjadi peristiwa darurat ketika seorang warga harus melahirkan di tengah perjalanan menuju fasilitas kesehatan akibat sulitnya akses jalan.
“Itu berdasarkan cerita dari Kepala Desa Bloro. Seorang ibu melahirkan di tengah jalan karena kondisinya tidak memungkinkan. Alhamdulillah ibu dan bayinya selamat,” ungkapnya.
Sementara itu, salah seorang warga Desa Bloro, Midi, menuturkan kerusakan jalan tersebut telah berlangsung sekitar tiga tahun terakhir. Meski sempat dilakukan perbaikan, penanganannya hanya berupa penimbunan tanah yang tidak bertahan lama.
“Pernah diperbaiki, tapi cuma ditimbun tanah. Kena hujan dan dilewati mobil, rusak lagi,” ujarnya.
Ia mengaku paling prihatin terhadap para pelajar. Menurutnya, saat hujan jalan menjadi sangat licin sehingga kerap menyebabkan siswa tergelincir dan terjatuh, bahkan terpaksa pulang karena pakaian mereka kotor terkena lumpur.
“Anak sekolah yang kasihan, banyak yang jatuh. Kalau sudah jatuh, bajunya kotor kena lumpur, akhirnya pulang, tidak jadi sekolah,” tuturnya.
Midi juga mengisahkan pengalaman pribadi keluarganya. Anak perempuannya sempat melahirkan di tengah perjalanan menuju Puskesmas Sebulu akibat sulitnya akses jalan.
“Anak saya lahiran di jalan. Sekarang anaknya sudah sekitar tiga tahun. Untung ibu dan bayinya selamat,” kenangnya.
Menurut Midi, kerusakan jalan tak lepas dari aktivitas hauling batu bara yang sebelumnya ramai melintasi jalur tersebut. Meski aktivitas tambang kini telah berhenti, kondisi jalan belum mendapat perbaikan menyeluruh.
“Dulu sering dilewati truk batu bara. Jalannya rusak karena itu. Sekarang tambangnya sudah tidak ada, tapi jalannya belum diperbaiki,” katanya.
Menanggapi kondisi tersebut, Bupati Kutai Kartanegara, Aulia Rahman Basri, memastikan pemerintah daerah akan segera melakukan penanganan. Ia menegaskan jalan Bloro–Sebulu Moderen merupakan aset pemerintah kabupaten dan menjadi akses vital masyarakat.
“Hasil tinjauan kita, jalan ini memang harus segera ditangani. Yang kita lakukan sekarang adalah bagaimana caranya jalan ini bisa dilalui dulu. Kemungkinan PU akan menurunkan pengerasan terlebih dahulu,” ujar Aulia.
Ia menambahkan, pada anggaran perubahan mendatang, Pemerintah Kabupaten Kukar akan mengalokasikan dana untuk pemantapan jalan secara permanen melalui pengecoran.
“Insya Allah di perubahan nanti kita alokasikan untuk pengecorannya. Dulu jalan ini dipelihara oleh perusahaan batu bara karena menjadi jalur hauling. Sekarang perusahaannya sudah tutup, sehingga kewenangannya kembali ke pemerintah daerah dan wajib kita perbaiki,” tegasnya.
Warga pun berharap rencana tersebut dapat segera direalisasikan. Bagi mereka, perbaikan jalan bukan sekadar pembangunan infrastruktur, melainkan menyangkut keselamatan, pendidikan anak-anak, serta kelancaran aktivitas ekonomi sehari-hari.
“Harapan kami jalan ini cepat diperbaiki, supaya anak sekolah dan warga bisa beraktivitas dengan aman dan nyaman,” pungkas Midi. (*van)

















