KUKAR: Penyakit tidak menular (PTM), seperti hipertensi dan diabetes melitus, kini menjadi ancaman serius bagi masyarakat. Bahkan, tren penderitanya mulai bergeser ke kelompok usia produktif akibat pola hidup tidak sehat yang semakin banyak diterapkan.
Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutai Kartanegara (Kukar), dr. Leni Astuti, mengatakan penyakit tidak menular kerap disebut sebagai silent killer karena perkembangannya sering kali tidak disadari hingga menimbulkan komplikasi serius.
Menurutnya, hipertensi dan diabetes merupakan contoh penyakit yang perlu diwaspadai. Kedua penyakit tersebut dapat berkembang secara perlahan tanpa menunjukkan gejala yang jelas pada tahap awal.
“Penyakit tidak menular ini seperti fenomena gunung es. Kasusnya terus bertambah di bawah tanpa kita sadari. Sekarang, usia muda pun sudah mulai banyak yang mengalami diabetes melitus dan hipertensi,” ujarnya Sabtu (7/11/2026).
Leni menjelaskan, salah satu faktor pemicunya adalah perubahan gaya hidup, mulai dari kurangnya aktivitas fisik, kebiasaan mengonsumsi makanan tidak sehat, hingga tingginya konsumsi minuman dengan kadar gula berlebih.
Ia mencontohkan, minuman kekinian seperti bubble tea, teh susu, dan berbagai minuman manis lainnya perlu dibatasi karena kandungan gulanya cukup tinggi. Kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji serta pola tidur yang tidak teratur juga dapat meningkatkan risiko penyakit tersebut.
“Jangan sampai kita hanya takut terhadap penyakit menular, sementara penyakit tidak menular justru berkembang tanpa disadari. Karena itu, masyarakat harus mulai memperhatikan pola makan, rutin berolahraga, dan menerapkan gaya hidup sehat,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Tim Kerja Pelayanan Kesehatan Dasar dan Rujukan (PKDR) Kukar, dr. Adam, mengungkapkan bahwa profil penderita hipertensi dan diabetes kini mengalami pergeseran. Jika sebelumnya lebih banyak ditemukan pada kelompok lanjut usia, saat ini kedua penyakit tersebut juga banyak menyerang masyarakat usia produktif.
Berdasarkan pemantauan di 32 puskesmas di Kukar, hipertensi dan diabetes menjadi salah satu persoalan kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius karena berpotensi memicu komplikasi, terutama gagal ginjal dan penyakit jantung.
“Orang Indonesia itu banyak yang diabetes dengan komplikasi gagal ginjal. Hipertensi juga sama, dampaknya bisa ke jantung dan ginjal. Risikonya mencapai 20 hingga 30 persen. Ini yang sering tidak disadari masyarakat,” jelas Adam.
Melalui upaya edukasi dan peningkatan kesadaran masyarakat, Dinkes Kukar berharap pencegahan penyakit tidak menular dapat dilakukan sejak dini. Pemeriksaan kesehatan secara berkala, menjaga pola makan, serta meningkatkan aktivitas fisik menjadi langkah penting untuk menekan risiko komplikasi. (and)

















