BALIKPAPAN: Kebakaran yang melanda kawasan padat penduduk di RT 18, Kelurahan Karang Jati, Kecamatan Balikpapan Tengah, Selasa (24/3/2026) sore, menjadi pengingat serius akan tingginya risiko kebakaran di lingkungan dengan hunian rapat dan akses terbatas.
Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 17.00 WITA itu dengan cepat membesar, dipicu kondisi rumah yang berdempetan. Dalam waktu singkat, api menjalar dan menghanguskan empat rumah yang seluruhnya dalam kondisi berpenghuni.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Balikpapan, Usman, mengungkapkan bahwa proses pemadaman menghadapi tantangan besar di lapangan.
Selain akses jalan yang sempit dan sulit dijangkau armada, banyaknya warga yang berkerumun untuk menonton turut memperlambat penanganan.
“Kami mengerahkan enam unit dari berbagai pos, dibantu angkatan laut, Brimob, hingga Pertamina. Api berhasil dikuasai sekitar 40 menit ” jelasnya di lokasi kejadian.
Beruntung tidak ada korban jiwa, namun satu orang mengalami luka bakar sekitar 20 persen di bagian lengan dan telah mendapatkan perawatan medis.
Hingga kini, penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan. Namun, dugaan awal mengarah pada sumber api yang berasal dari bagian loteng luar salah satu rumah yang digunakan sebagai usaha laundry.
Peristiwa ini juga menegaskan pentingnya kesadaran bersama dalam menghadapi bencana. Pemerintah Kota Balikpapan, sesuai arahan Wali Kota Rahmad Mas’ud, menekankan bahwa penanganan bencana merupakan tanggung jawab kolektif, yang membutuhkan keterlibatan semua pihak.
Ketua RT 18, Hadi Wiyono, mengatakan dirinya baru tiba di lokasi setelah mendapat kabar dari warga.
“Saat saya datang, api sudah besar di bagian atas. Informasi dari warga, pemilik rumah sedang tidur, jadi tidak mengetahui awal kejadian. Api diduga dari loteng luar rumah laundry,” ujarnya.
Dampak kebakaran ini cukup signifikan. Sebanyak 9 kepala keluarga atau 25 jiwa terdampak, termasuk tiga balita dan enam anak-anak.
Kebakaran di Karang Jati bukan hanya soal musibah, tetapi juga cermin tantangan penataan kawasan permukiman padat di perkotaan di mana faktor akses, kepadatan bangunan, dan kesiapsiagaan warga menjadi penentu cepat atau lambatnya penanganan bencana.(las)

















