KUKAR: Lomba olahraga tradisional menjadi salah satu rangkaian kegiatan dalam memeriahkan Erau Adat Kutai 2026. Kegiatan tersebut resmi dibuka di area parkir Pulau Kumala, Tenggarong, Senin (21/9/2026).
Ratusan peserta ikut meramaikan kegiatan ini dengan berpartisipasi dalam empat cabang olahraga tradisional yang dipertandingkan, yakni menyumpit, bergasing, belogo, dan ketapel.
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kutai Kartanegara (Kukar), Aji Ali Husni mengatakan, festival olahraga tradisional merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap penyelenggaraan Erau Adat Kutai.

Menurutnya, kegiatan ini menjadi wadah pelestarian dan pengembangan olahraga tradisional, sekaligus mendorong peningkatan prestasi masyarakat, khususnya generasi muda.
“Tujuannya untuk meningkatkan prestasi masyarakat khususnya generasi muda, menumbuhkan nilai sportivitas, kebersamaan dan kecintaan terhadap budaya daerah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya mendukung Erau sebagai event budaya dan pariwisata unggulan Kabupaten Kukar agar semakin dikenal di tingkat nasional.
Pada pelaksanaan tahun ini, terdapat empat cabang olahraga tradisional yang dipertandingkan, yakni menyumpit dengan 65 peserta, bergasing 200 peserta, belogo 95 peserta, dan ketapel sebanyak 52 peserta.
Selain empat cabang tersebut, terdapat satu olahraga tradisional yang diperkenalkan melalui eksibisi. Ali berharap eksibisi tersebut dapat meningkatkan minat masyarakat, terutama anak-anak, untuk mengenal dan mengikuti olahraga tradisional.
“Kalau memang ini tumbuh pesat dalam perkembangannya di wilayah Kabupaten Kukar, tidak menutup kemungkinan event ini akan selalu kita libatkan dalam kegiatan Erau selanjutnya,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Kukar Sunggono mengatakan, Erau merupakan ruang kebersamaan yang mempertemukan adat masyarakat, seni, budaya dan kegembiraan.
Ia menilai olahraga tradisional memiliki nilai yang lebih luas daripada sekadar persoalan menang atau kalah. Di dalamnya terdapat kecakapan, ketangkasan, keseimbangan, konsentrasi, keberanian, kesabaran, kerja sama dan sportivitas.
“Belogo mengajarkan kepada kita ketepatan perhitungan. Bergasing memerlukan keterampilan, ketekunan, pemahaman bahan serta teknik yang diwariskan. Menyumpit membutuhkan fokus, pengendalian diri dan ketepatan. Ketapel juga menuntut konsentrasi dan keterampilan,” jelasnya.
Menurut Sunggono, permainan tradisional merupakan pengetahuan yang lahir dari pengalaman panjang masyarakat dan layak ditempatkan sebagai bagian penting dari pendidikan budaya.
Ia menekankan, tantangan pelestarian olahraga tradisional bukan hanya mempertahankan nama permainan, tetapi memastikan keberadaan pelaku, ruang bermain, komunitas, aturan serta regenerasi.
“Olahraga tradisional tidak berhenti sebagai kegiatan pelengkap di sebuah festival. Pemerintah daerah bersama Kormi, komunitas, satuan pendidikan, serta pemerintahan desa maupun kelurahan perlu memperkuat pembinaan secara berkelanjutan,” ungkapnya.
Ia berharap ke depan semakin banyak ruang latihan, kader pelatih dan juri, dokumentasi aturan permainan, kompetisi berjenjang serta kesempatan bagi generasi muda untuk tampil.
Sunggono juga mengajak para orang tua mengenalkan olahraga tradisional kepada anak-anak. Menurutnya, keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan olahraga tradisional di tengah perubahan zaman.
“Mari kita jadikan lomba tradisional Erau Adat Kutai 2026 sebagai arena yang menggembirakan, aman, sportif dan bermartabat, sebagai ruang silaturahmi para pegiat, tempat belajar bagi generasi muda serta bagian dari upaya bersama menjaga kekayaan budaya Kutai Kartanegara dan Nusantara,” pungkasnya. (Adv/Van)

















