KUKAR: Hadirnya Ibu Kota Nusantara (IKN) menjadi tantangan tersendiri bagi Kutai Kartanegara untuk terus melestarikan dan mengembangkan kebudayaan. Pemkab Kukar melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Kartanegara (Kukar) telah menyiapkan beberapa program untuk melestarikan budaya Kutai di masyarakat.
Kepala Disdikbud Kukar, Thauhid Aprilian Noor, mengatakan bahwa pihaknya terus mendorong agar budaya lokal di Kukar tetap terjaga dan dilestarikan. Salah satu program yang akan dilaksanakan adalah mengenakan pakaian adat dan menggunakan bahasa Kutai seharian penuh di sekolah.
“Rencana ini sudah kami bicarakan dengan Bapak Bupati, selain ada Miskat Day, kita juga akan tambahkan pakaian adat Kutai yang lain seperti baju Cinan. Kita juga akan diwajibkan penggunaan bahasa Kutai selama di sekolah setiap hari Kamis,” ungkap Thauhid belum lama ini.
Ia menjelaskan bahwa hari Kamis telah dijadikan sebagai hari bahasa Kutai yang akan digunakan dalam rapat-rapat dan pertemuan. Selain itu, mengenalkan makanan khas Kutai juga merupakan salah satu upaya untuk menjaga kelestarian budaya di Kukar.
Sejumlah program ini adalah upaya dan langkah Pemkab Kutai Kartanegara melalui Disdikbud Kukar dalam menguatkan budaya Kutai agar tidak punah akibat perkembangan zaman, terutama dengan adanya IKN nantinya.
“Kami berharap melalui program ini dapat meningkatkan eksistensi budaya Kutai sebagai ciri khas daerah kita,” ucapnya.
Thauhid menambahkan bahwa program tersebut harus menjadi perhatian khusus bagi pemerintah dan pihak terkait, sehingga implementasinya dapat berjalan lancar dalam rangka melestarikan budaya yang merupakan warisan nenek moyang Kutai Kartanegara.
“Tentunya dengan adanya penguatan ini baik bahasa, budaya, pakaian adat, dan seni, kita dapat melestarikannya agar tidak tenggelam karena adanya IKN. Kami sebagai sektor pendidikan juga wajib mengajak siswa-siswi untuk mengenal budaya yang ada di Kukar agar tidak punah,” tutupnya. (adv/dk1)

















