KUKAR : Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Kartanegara terus menunjukkan komitmennya dalam melestarikan warisan budaya lokal. Salah satu upaya terbaru dilakukan melalui workshop Belian Namang di Desa Kedang Ipil, Kecamatan Kota Bangun Darat. Kegiatan ini menyasar pelestarian praktik adat yang mulai ditinggalkan, terutama karena minimnya ketertarikan generasi muda terhadap budaya leluhur.
Kabid Kebudayaan Disdikbud Kukar, Puji Utomo, mengungkapkan bahwa tantangan utama dalam pelestarian Belian Namang adalah adanya stigma negatif terhadap profesi dukun. Hal ini menyebabkan generasi muda enggan terlibat dalam pelatihan.
“Kami terus memberikan edukasi bahwa ini adalah bagian dari tradisi dan identitas budaya, bukan sekadar praktik mistik,” jelasnya Jumat (25/4/2025).
Meski menghadapi tantangan, ada tanda-tanda positif. Ketertarikan terhadap budaya lokal mulai tumbuh, terutama setelah peserta workshop diberi kesempatan tampil di Festival Budaya di Yogyakarta. Penampilan mereka memukau publik dan memantik rasa bangga di kalangan pemuda Kedang Ipil terhadap budaya mereka sendiri.
Dalam upaya pelestarian budaya tersebut, Disdikbud juga menghidupkan kembali tarian Jepen Romba, tarian khas Kedang Ipil yang terakhir dipentaskan pada 1985. Dengan dukungan dari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI), tarian ini kini direvitalisasi dan tengah diajukan untuk mendapat perlindungan hak cipta.
Proses pengajuan hak cipta ini bukan bertujuan komersialisasi, melainkan bentuk pengakuan negara atas karya budaya masyarakat. “Kami ingin Jepen Romba diakui sebagai kekayaan tak benda milik Kutai Kartanegara,” tegas Puji.
Salah satu aspek unik dari tarian Jepen Romba adalah gerakan langkah hantu belau, yang diambil dari kisah mistis lokal. Gerakan ini telah dikembangkan menjadi bentuk ekspresi seni yang estetis, membuktikan bahwa unsur horor atau mistis dalam budaya bisa diolah menjadi nilai seni yang positif.
Disdikbud Kukar berharap pendekatan ini dapat menarik lebih banyak generasi muda untuk terlibat aktif dalam pelestarian budaya. “Budaya tidak harus tua dan kaku. Ia bisa menjadi ruang ekspresi yang kreatif dan membanggakan,” tutupnya. (Adv/dk)

















