Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
ADVERTORIALKUTAI KARTANEGARA

Disdikbud Kukar Fokus Kembangkan Museum Kayu di Tenggarong

326
×

Disdikbud Kukar Fokus Kembangkan Museum Kayu di Tenggarong

Share this article
bc42b692 cba2 439f 9919 659396bcae24
Example 468x60

KUKAR : Sejak resmi dikelola oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Kartanegara pada tahun 2017, Museum Kayu terus mengalami berbagai pembenahan dan pengembangan. Pamong Budaya Ahli Muda Bidang Cagar Budaya dan Permuseuman, M. Saidar, menyampaikan bahwa upaya revitalisasi terus dilakukan meski masih terkendala status lahan dan anggaran yang terbatas.

Salah satu langkah penting yang telah dilaksanakan adalah revitalisasi kawasan museum pada tahun 2021, termasuk perbaikan jembatan yang sebelumnya rusak akibat banjir serta pembenahan sarana pendukung seperti toilet. Museum ini kini menjadi bagian penting dalam pelestarian sejarah dan budaya lokal.

Ke depan, Saidar menjelaskan bahwa pihaknya merencanakan pembangunan rumah adat di sekitar kawasan museum sebagai bagian dari pengembangan atraksi budaya. Namun, rencana ini belum bisa terealisasi karena status lahan museum yang masih berada di bawah kepemilikan Dinas Pariwisata.

“Kami hanya menerima pengelolaan bangunan dan koleksi, sedangkan lahan masih tercatat milik OPD lain,” katanya Senin (28/4/2025).

Hal tersebut menimbulkan kendala administratif, karena untuk setiap pengembangan infrastruktur, pihak Disdikbud harus meminta izin ke dinas lain seperti PU dan Pariwisata. Saidar berharap ke depannya pengelolaan kawasan ini bisa sepenuhnya diserahkan ke Disdikbud agar pengembangan bisa lebih terarah dan optimal.

“Dari sisi konservasi, koleksi kayu yang ada di museum juga menghadapi tantangan besar. Beberapa koleksi mulai rapuh karena dimakan rayap dan belum pernah diganti sejak museum berdiri. Oleh karena itu, kami berencana menganggarkan perawatan khusus pada tahun 2025, termasuk menjalin kerja sama dengan perusahaan kayu untuk penyediaan material yang sesuai.” ujarnya.

Untuk saat ini, perawatan rutin hanya dilakukan setiap hari Selasa, berupa pembersihan ringan tanpa bahan kimia. Koleksi seperti buaya yang diawetkan bahkan membutuhkan perawatan dari tenaga khusus dan dokter hewan karena sifatnya yang sensitif. Namun secara keseluruhan, perawatan menyeluruh belum dapat dilakukan karena keterbatasan anggaran.

Museum Kayu memungut retribusi masuk sebesar Rp10.000 untuk dewasa dan Rp5.000 untuk anak-anak. Sementara itu, Disdikbud Kukar kini hanya mengelola langsung satu museum ini.

“Museum lain, seperti di Kecamatan Muara Muntai, telah diserahkan pengelolaannya kepada pemerintah kecamatan setempat yang mengelola secara mandiri namun tetap berkoordinasi jika membutuhkan bantuan.” pungkasnya. (Adv/dk)

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *