Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
ADVERTORIALKUTAI KARTANEGARA

Disdikbud Kukar Hidupkan Kembali Budaya yang Hampir Punah Lewat Event dan Kajian

255
×

Disdikbud Kukar Hidupkan Kembali Budaya yang Hampir Punah Lewat Event dan Kajian

Share this article
31c14722 c570 4cf6 ba3f b1a599344ac3
Kabid Kebudayaan Disdikbud Kukar Puji Utomo.(Foto:dk)
Example 468x60

KUKAR : Di tengah arus modernisasi yang semakin kencang, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus berupaya menyalakan kembali nyala api budaya yang mulai meredup.

Di bawah koordinasi Kabid Kebudayaan, Puji Utomo, berbagai langkah konkret telah dilakukan untuk menggali, merawat, dan mempromosikan warisan budaya lokal yang nyaris terlupakan.

“Salah satu langkah awal yang kami lakukan adalah menyosialisasikan kembali budaya-budaya daerah melalui event seperti pemilihan Duta Budaya,” ujar Puji Sabtu (17/5/2025).

Menurutnya, ajang-ajang semacam ini bukan hanya menjadi wadah ekspresi generasi muda, tetapi juga sarana untuk mengenalkan kembali kekayaan tradisi yang mulai tergerus zaman.

“Melalui kegiatan budaya, kami ingin menghidupkannya kembali,” katanya.

Tak hanya itu, Disdikbud Kukar juga menaruh perhatian besar pada wilayah-wilayah yang memiliki potensi budaya tinggi, seperti Bensamar. Wilayah yang dijuluki “Kampung Lawas” ini menyimpan kekayaan seni yang khas, mulai dari kesenian Mamanda, tingkilan, hingga tapsul.

“Sejak tahun lalu, kami mulai mengemas ulang budaya di Bensamar agar bisa lebih dikenal oleh masyarakat luas,” tambah Puji.

Sayangnya, proses pelestarian ini tidak selalu berjalan mulus. Keterbatasan anggaran menjadi tantangan utama dalam upaya menggali dan mendokumentasikan ragam budaya yang tersebar di berbagai kampung. Meski begitu, tim kebudayaan tetap berkomitmen melanjutkan inventarisasi dan kajian secara bertahap.

Keterlibatan generasi muda menjadi salah satu fokus utama. Disdikbud Kukar kerap menggelar pertunjukan seni di Titik Nol Tenggarong, tempat terbuka yang kini menjadi titik temu antara seni dan masyarakat. Dalam setiap gelaran, para peserta didorong untuk mengenakan pakaian adat seperti pesapu atau baju pecinan sebagai bentuk penghargaan terhadap identitas lokal.

Selain itu, paguyuban seni yang tersebar di Kukar juga berperan penting dalam menjaga napas budaya. Beberapa yang masih aktif hingga kini antara lain sanggar tari Kutai, komunitas Reog dan Jaranan, serta grup kesenian dari etnis luar yang telah lama berbaur di Kukar.

“Mereka memiliki nomor induk kesenian yang tercatat resmi di kami. Ini menunjukkan bahwa seni tetap hidup dalam komunitas,” tutur Puji.

Namun, tak bisa dipungkiri bahwa ada pula paguyuban yang mati suri karena kekosongan anggota. Meskipun begitu, semangat untuk meneruskan warisan budaya tetap menyala, bahkan beberapa di antaranya berhasil diregenerasi oleh anak-anak muda yang cinta akan akar budayanya.

Menariknya, dalam ranah kesenian seperti Mamanda, Puji menekankan pentingnya kajian ilmiah. “Setiap daerah bisa saja punya kesenian serupa, seperti Banjar atau Riau. Tapi setiap tempat punya ciri khas masing-masing. Di sinilah peran antropologi dan sosiologi sangat penting,” jelasnya.

Untuk itu, peran Badan Pelestari Kesenian (BPK) sangat diharapkan. Dengan tenaga ahli yang dimiliki, BPK diharapkan mampu melakukan kajian mendalam terhadap berbagai budaya lokal. Kajian ini penting agar pelestarian budaya dilakukan secara tepat dan autentik.

“Kami tidak ingin budaya hanya jadi pajangan. Budaya harus hidup, dirasakan, dan diwariskan. Dan itu dimulai dari kesadaran kita semua,” tutup Puji. (Adv/dk)

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *