KUKAR : Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Kartanegara (Kukar) terus mendorong penguatan pendidikan inklusif di wilayahnya. Salah satu langkah nyata dilakukan melalui kegiatan studi banding ke sekolah inklusi yang rencananya akan digelar pada Juli 2025.
Plt. Kasi Penjaminan Mutu Bidang SMP Disdikbud Kukar, Al Adawiyah atau yang akrab disapa Wiwik, menjelaskan bahwa kegiatan ini akan melibatkan lima kepala sekolah atau guru dari berbagai kecamatan, termasuk Tenggarong. Awalnya, kegiatan ini dirancang sebagai program magang selama satu bulan. Namun, keterbatasan anggaran membuat durasi kunjungan dipersingkat menjadi tiga hari.
“Sebagai gantinya, para guru tersebut akan kami tempatkan selama dua hari untuk mendalami metode pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus,” ujar Wiwik Kamis (22/5/2205).
Ia menambahkan, kegiatan ini penting mengingat keterbatasan sumber daya manusia dalam bidang pendidikan inklusif di Kukar.
Studi banding ini diharapkan bisa memberikan pemahaman langsung kepada guru tentang cara menangani anak berkebutuhan khusus. Nantinya, mereka akan menyosialisasikan hasil pembelajaran itu ke kecamatan masing-masing.
“Sekarang sekolah reguler wajib menerima anak berkebutuhan khusus. Meski belum semua guru punya keahlian khusus, setidaknya mereka harus dibekali pengetahuan dasar tentang penanganan,” ujar Wiwik.
Guru-guru yang dipilih untuk mengikuti kegiatan ini adalah mereka yang dinilai mampu menjadi pelatih (trainer) di wilayahnya. Hal ini juga mempertimbangkan kondisi orang tua di daerah pedalaman yang kesulitan membawa anak mereka ke kota untuk terapi karena faktor biaya.
“Anak-anak berkebutuhan khusus juga berhak belajar. Yang mereka butuhkan bukan hanya keterampilan akademik, tapi juga kasih sayang,” jelas Wiwik.
Ia menambahkan, banyak anak justru belajar lebih baik saat mendapat perhatian dan pendekatan personal dari orang tua dan guru.
Wiwik berharap, melalui kegiatan ini para guru dapat menyampaikan kembali ilmu dan pengalaman yang diperoleh, sehingga pendidikan inklusif dapat diterapkan secara lebih merata dan menyeluruh.
“Guru bukan sekadar pengajar materi, tetapi juga pembimbing dan pembina yang bekerja dengan hati. Apalagi untuk jenjang SD dan TK, pendekatan emosional sangat penting,” tutupnya. (Adv/dk)

















