KUKAR : Di tengah arus globalisasi dan derasnya arus informasi digital, kekhawatiran terhadap lunturnya minat generasi muda terhadap sejarah dan budaya lokal menjadi perhatian serius Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Kartanegara (Kukar). Salah satu langkah yang kini sedang digalakkan adalah mendorong sekolah-sekolah untuk mengintegrasikan kunjungan ke situs budaya dalam kegiatan pendidikan.
Pamong Budaya Ahli Muda Bidang Cagar Budaya dan Permuseuman Disdikbud Kukar, M. Saidar, mengungkapkan bahwa masih minimnya program sekolah yang mengajak siswa mengunjungi situs-situs budaya di daerah menjadi keprihatinan tersendiri. Padahal, Kutai Kartanegara memiliki banyak peninggalan sejarah penting yang sarat nilai edukatif dan kearifan lokal.
“Anak-anak zaman sekarang perlu mengetahui nilai-nilai sejarah, apalagi yang berkaitan dengan warisan budaya. Di Kutai sendiri, kita memiliki banyak peninggalan sejarah yang sangat penting,” kata Saidar Senin (28/4/2025).
Ia menambahkan bahwa situs seperti Kesultanan Kutai, Taman Titik Nol, dan Tugu Persatuan memiliki nilai historis yang kuat dan sangat layak menjadi bagian dari proses pembelajaran siswa.
“Sayangnya, sampai saat ini saya belum banyak melihat program sekolah yang mengarahkan siswa untuk berkunjung ke situs-situs budaya tersebut. Karena itu, saya mengimbau agar sekolah-sekolah mulai merancang kegiatan kunjungan budaya agar anak-anak tidak hanya tahu informasi dari luar, tetapi juga memahami kekayaan sejarah dan budaya di daerah mereka sendiri,” tegasnya.
Tak hanya mendorong kunjungan fisik, Saidar juga mengungkapkan bahwa Disdikbud Kukar tengah menyiapkan terobosan baru melalui program Digitalisasi Inovasi Cagar Budaya, yang ditargetkan akan diluncurkan pada tahun 2026.
Program ini akan memungkinkan masyarakat, khususnya pelajar, untuk mengakses informasi tentang situs-situs budaya melalui platform digital, termasuk Google Maps. Dengan demikian, sejarah lokal bisa diakses lebih luas dan mudah oleh siapa saja, kapan saja.
“Konsepnya sudah ada, tinggal menunggu waktu yang tepat untuk dirilis. Semoga upaya ini bisa memperkuat pemahaman generasi muda terhadap sejarah dan budaya lokal,” ujarnya.
Selain itu, Disdikbud Kukar juga sedang menyusun buku tentang peninggalan sejarah di Kukar, yang akan dibagikan ke sekolah-sekolah sebagai referensi yang akurat dan terstruktur. Versi digital buku ini pun tengah dirancang agar bisa menjangkau pelajar di era teknologi.
“Kami berharap generasi muda tidak hanya cakap teknologi, tapi juga memiliki kecintaan dan kebanggaan terhadap sejarah dan budaya daerahnya sendiri.” ungkapnya (Adv/dk)

















